Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Followers

Senin, 10 Oktober 2011

Perbandingan Orde Lama dan Orde Baru Dalam Pandangan Herbert Feith dan Lance Castel

Pendahuluan

     Sebuah buku yang menjelaskan tentang Indonesia sejak tahun 1945-1965 yang berjudul pemikiran politik Indonesia ( Herbert Feith dan Lance Castel). Pada bab Pengantar Edisi Indonesia mereka menjelaskan dan membandingkan kepemimpinan pada periode Sukarno dan pada periode suharto dengan berbagai studi, pada buku mereka memuat tulisan yang beragam yang bahan-bahannya bersumber dari harian atau mingguan, bulanan partai atau kuartalan budaya, pidato, ceramah, buku-buku, dan pamflet.

     Bagi mereka mutu suatu pemikiran politik ditentukan kemampuan untuk berbicara secara bermakna bagi masyarakat tertentu dan memberikan peta situasi politik kepada anggotanya yang dapat dipahami secara jelas. Ini merupakan syarat penting, seperti halnya yang lain, seperti cakupan, ketajaman, dan konsistensi.

     Harbert dan Castles menjelaskan aspek-aspek yang paling penting dari lingkungan sosial politik, yang tetap dapat dimengerti atau paling tidak mudah diterangkan oleh sejumlah besar aktivitas politik ( yang diantaranya kaum muda terpelajar merupakan kelompok penting ) Itulah Prakata yang disampaikan oleh Harbert dan Castles dalam bukunya diatas, yang akan kita jelaskan nanti dibawah InsyaAllah.

Pembahasan

     Dalam bab pengantar edisi Indonesia Herbert Feith dan Lance Castel membedakan serta membandingkan pemokiran politik dalam dua periode yaitu antara periode Sukarno-Hatta dan Periode setelahnya yaitu Orde Baru masa kepemimpinan Suharto. Menurut mereka yaitu pertama, masa Orde Baru adalah periode pemerintahan yang stabil, dengan tingkat kontinyuitas yang tinggi dalam masalah kebijaksanaan dan personal pemerintahan. Pada masa ini disebut pemerintahan militer atau militer-teknokrat atau yang lebih mudahnya lagi masa kepemimpinan Suharto. Namun disini Harbert Feith tidak menemukan sebutan yang cocok untuk masa sebelum Orde Baru, Maka dia menyebutkan dengan periode Sukarno Hatta, istilah itu sendiri menunjukkan periode konflik yang tidak teratasi. Tetapi istilah ini menurut mereka tidak banyak digunakan di indonesia.

     Kedua, Herbert Feith dan Castel menjelaskan bahwa Zaman Orde Baru merupakan zaman dimana terjadi perubahan ekonomi yang jauh jangkauannya, pada masa ini usaha besar-besaran dalam menambang minyak dan mineral, kemajuan yang dramatis dalam perhubungan barat dan udara serta telekomunikasi, inovasi teknologi yang cepat dalam bidang pertanian, terutama padi, perluasan yang cepat dalam industri manufaktur dan kegiatan konstruksi yang mengubah wajah-wajah kota besar secara mencolok. Semua perubahan ini dengan cepat diiringi membesarnya kemampuan negara mengumpulkan pajak serta bertambah efesiennya pengawasan dan penguasaan penduduk. Sumber-sumber keuangan yang dikuasai pemerintah pusat bertambah secara dramatis, yang membuatnya mampu membayar gaji pegawai negeri dan tentara dengan jauh lebih baik

     Berbada dengan periode Sukarno dimana itu ditandai dengan kekacauan administratif yang meluas disatu pihak, disatu sisi lain masyarakat masyarakat kelas bawah pada awal masa sukarno menikmati kebebasan demokrasi yang jauh lebih besar dibandingkan masa suharto. Disatu sisi negara sangat lemah karena banyaknya persoalan dari luar yaitu masyarak masih disibukkan melawan sisa-sisa penjajah di indonesia, sehingga negara berpusat untuk menghilangkan penjajah dari indonesia dan urusan ekonomi masih berantakan.

     Ketiga, dimasa Orde Baru pemerintah menggalang kerja sama yang erat dengan dunia barat yaitu kapitalis. Sedangkan pada masa Sukarno dia tidak menjalin kerja sama dengan para kapitalis dan lebih percaya pada kemampuan bangsa indonesia sendiri dalam memenuhi berbagai kebutuhannya tanpa tergantung dari pihak barat.

     Harbert dan Castles membandingkan pemikiran politik antara periode Sukarno-Hatta dan Suharto, mereka berusaha mencari persamaan dan perbedaan antara keduan periode tersebut, sehingga mereka menyimpulkan kesamaan diantara kedua periode tersebut terletak semakin pentingnya peranan ideologi negara. Pemerintah memang secara terus menerus secara aktif menyebarluaskan pengertian ideologisnya sepanjang masing-masing periode itu. Akan tetapi, penekanan terhadap usaha itu justeru menjadi lebih giat pada tahap akhir masing-masing. Dalam masing-masing periode peningkatan penekanan ideologis tersebut terdapat sejumlah golongan yang dipilih menjadi sasaran utama: anggota angkatan bersenjata republik Indonesia (ABRI), pegawai negeri, kaum profesional dan pegawai dari sektor swasta serta sejumlah pemuka desa. Kebanyakan petani, buruh dan pedagang kecil tidak diperhatikan dalam usaha ini.

     Sedangkan perbedaan yang tajam adalah profesionalisasi. Pada masa Sukarno kebanyakan orang yang menulis mengenai masalah politik memihak sebuah partai politik. Mereka masih memfokuskan pikiran kepada partainya dan membahas masalah politik dalam semangat keterlibatan yang aktif. Sedangkan pada masa Orde Baru para akademis dan kaum profesional telah mengalami perubahan yang berfokuskan kepada masalah pembangunan ekonomi. Sehingga pemikiran akan partai terabaikan.[1]

 



[1] Feith, Harbert dan Castles Lance, 1988. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965. Jakarta : LP3 ES. Bab Pengantar Edisi Indinesia.

 



Artikel Terkait:

0 komentar

Poskan Komentar