Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Followers

Sabtu, 04 Juni 2011

Partai dan Tujuan

Sejarah Pendirian dan Deklarasi PKB

     Pada tanggal 21 mei 1998 Presiden Soeharto lengser sebagai akibat desakan arus reformasi yang kuat, mulai yang mengalir dari sekitar diskusi terbatas, unjuk rasa, dan lain sebagainya. Peristiwa ini menandai lahirnya era baru di Indonesia yang kemudian disebut era reformasi.

     Sehari setelah peristiwa bersejarah itu, pengurus besar nahdatul ulama (PBNU) mulai kebanjiran usulan dari warga NU di seluruh pelosok tanah air. Usulan yang masuk ke PBNU sangat beragam, ada yang hanya mengusulkan agar PBNU membentuk parpol, ada pula yang mengusulkan nama parpol. Tercatat ada 39 nama parpol yang diusulkan. Nama terbanyak yang di usulkan adalah Nahdlatul Ummah, Kebangkitan Umat dan Kebangkitan Bangsa.

     Adapula yang mengusulkan lambang parpol. Dan unsur-unsur terbanyak yang diusulkan untuk lambang parpol adalah gambar bumi, bintang sembilan dan warna hijau. Adapula yang mengusulkan bentuk hubungan dengan NU, ada yang mengusulkan Visi dan misi parpol, AD/ART parpol, nama-nama yang menjadi pengurus, ada pula yang mengusulkan semuanya. Diantara yang usulannya paling lengkap adalah Lajnah Sebelas Rembang, yang di ketuai oleh KH. M. Cholil Bisri (alm.) dan PWNU Jawa Barat.

     Dalam menyikapi usulan yang masuk dari warga  nahdliyin, PBNU menanggapinya secara hati-hati. Hal ini di dasarkan pada adanya kenyataan bahwa hasil muktamar NU ke-27 di Situbondo yang menetapkan bahwa secara organisatoris NU tidak terkait dengan parpol mana pun, dan tidak melakukan kegiatan politik praktis. Namun demikain, sikap yang di tunjukkan PBNU belum memuaskan keinginan warga NU. Banyak pihak dan kalangan NU yang tidak sabar bahkan langsung menyatakan berdirinya parpol untuk mewadahi aspirasi politik warga NU setempat. Di antara yang sudah mendeklarasikan sebuah parpol adalah Partai Bintang Sembilan di Purwokerto dan Partai Kebangkitan Umat (Perkanu) di Cirebon

     Akhirnya, PBNU mengadakan Rapat Harian Syuriah dan Tandfidziyah PBNU pada tanggal 3 juni 1998, yang menghasilkan keputusan untuk membentuk Tim Lima yang diberi tugas untuk memenuhi aspirasi warga NU tersebut. Tim Lima di ketuai oleh KH. Makruf Amin (Rais Syuriah / koordinator Harian PBNU), dengan anggota KH. M. Dawam anwar (Katib Aam PBNU), DR. Said Aqiel Siradj (Wakil Katib Aam PBNU), H.M. Rozy Munier (Ketua PBNU), dan KH. Ahmad Bagdja (Sekretaris Jenderal PBNU). Untuk mengatasi  hambatan organisatoris, Tim Lima dibekali surat keputusan PBNU.

     Selanjutnya, untuk memperkuat posisi dan kemampuan  kerja Tim Lima seiring semakin derasnya usulan warga NU untuk menginginkan parpol, maka pada Rapat Harian Syuriah dan Tanfidziyah PBNU pada tanggal 20 juni 1998 memberi surat tugas kepada Tim Lima, selain itu juga di bentuk Tim Asistensi yang di ketuai Arifin Djunaidi Wakil Sekjen PBNU), dengan anggota H. Muhyiddin Arubusman, H.M. Fachry Thaha Makruf, Lc, Drs. H. Abdul Aziz, M.A., Drs. Andi Muarli Sunrawa, H.M. Nasihin Hasan, H. Lukman Saifuddin, Drs. Amin Said Husni dan Muhaimin Iskandar. Tim Asistensi bertugas membantu Tim Lima dalam menginventarisasi dan merangkum usulan yang ingin membentuk  parpol baru dan membantu warga NU dalam melahirkan  parpol baru yang dapat mengaspirasi politik Warga NU.

     Pada tanggal 22 juni 1998 Tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan rapat untuk mendefinisikan dan mengelaborasi tugas-tugasnya. Tanggal 26-28 juni 1998 tim Lima dan Tim Asistensi mengadakan konsinyering di Villa La Citra Cipanas untuk menyusun rancangan awal pembentukan parpol. Pertemual ini menghasilkan lima rancangan: Pokok-Pokok pikiran NU mengenai reformasi Politik, Mabda' Siyasi, Hubungan partai politik  dengan NU, AD/ART, dan Naskah Deklarasi.

     Kemudian pada tanggal 4-5 juli 1998 diadakan pertemuan  silaturrahmi nasional ulama dan tokoh-tokoh NU di Bandung guna memperoleh masukan yang lebih luas dari warga NU. Dalam kesempatan ini muncul tiga alternativ mengenai nama parpol, yakni Nahdlatul Ummat, Kebangkitan Umat dan Kebangkitan Bangsa.

     Berikutnya, setelah melalui diskusi Verifikasi pada tanggal 30 juni 1988, pertemuan finalisasi pada tanggal 17 juni 1998 dan konsultasi dengan berbagai pihak, Tim Lima dan Tim Asistensi menyerahkan  hasil akhir kepada Rapat Harian Syuriah dan Tanfidziyah NU pada tanggal 22 juni 1998. rapat tersebut menerima  rancangan  yang disiapkan Tim Lima dan Tim Asistensi untuk diserahkan kepada pengurus parpol sebagai dokumen historis dan aturan main parpol.

     Alhasil, parpol yang diharapkan dapat menampung aspirasi warga NU pada khususnya dan bangsa Indonesia  pada umumnya yang diberi nama Partai Kebangkitan Bangsa, pada tanggal 23 juli 1998 dideklarasikan  di kediaman KH. Abdurrahman Wahid ( Ketua Umum PBNU), Ciganjur, Jakarta Selatan.

     Tanggal 29 Rabi'ul Awal 1419 Hijriyah atau 23 juli 1998, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) resmi di deklarasikan oleh kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU). Mereka terdiri dari KH Munasir Ali, KH Ilyas Ruchiyat, KH Abdurrahman Wahid ( Gus Dur), KH A. Musthofa Bisri (Gus Mus), dan KH A. Muchith  Muzadi.[1]

 

Ideologi Dan Paham Keagamaan Partai

     Secara khusus ideologi dan paham keagamaan partai PKB dan Nahdlatul Ulama (NU) menganut paham Ahlussunah Wal Jama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Al-Qur'an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fikih mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

     Gagasan kembali ke khittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil membangkitkan kembali gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.[2]

   Tapi secara umum menurut hasil wawancara kelompok kami pada hari kamis tanggal 9 desember 2010 dengan bapak Bambang  Sutanto yang merupakan wakil bendahara DPP PKB pusat, beliau mengatakan bahwa menguatnya gerakan-gerakan radikalisme Islam dewasa ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi entitas-entitas umat Islam Indonesia yang moderat. Islam Indonesia menjadi dipertanyakan dalam posisinya terhadap kekerasan atas nama agama dan praktik-praktik politik berkedok agama, yang secara prinsipil bertentangan dengan demokrasi dan hak asasi manusia yang dijunjung tinggi bangsa Indonesia.

     Ulama, tokoh masyarakat, dan cendikiawan Muslim Indonesia menegaskan bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang damai. Sementara itu menurut beliau Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, sejak muktamar pada tahun 1935 hingga musyawara Nasional (Munas) Alim Ulama yang paling mutakhir sama sekali tidak sependapat dengan pendapat-pendapat dengan tindakan-tindakan yang mengarah pada  radikalisme, ekstrem dan penuh kekerasan, juga tentang  penegakan khilafah dan negara Islam.

     Prinsip Islam moderat yang diemban oleh NU ini membawa dampak yang serupa dengan partai yang dibidaninya, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Beliau melanjutkan sejak dideklarasikan tahun 1998 lalu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Upayakan  dan di format menjadi partai yang terbuka bagi siapapun dan untuk semua kalangan masyarakat Indonesia. Paham yang terbuka di sini memiliki arti bahwa PKB memberikan akses Politik pada semua kekuatan bangsa untuk berkiprah di partai ini, baik sekedar sebagai kader, anggota, maupun  masuk dalam struktur  kepemimpinan partai.

     Sebagai partai politik yang lahir dari rahim NU, PKB telah memastikan dirinya sebagai partai yang berwatak nasionalis-religius. Dikatakan partai ini adalah dari ulama untuk bangsa.

     Bambang  Sutanto menjelaskan bahwa ada tiga kriteria sekaligus yang memungkinkannya bergerak secara memadai pada arah politik nasional dan daerah. Pertama, Posisi ideologi PKB adalah keislaman dan ke Indonesia-an. Kedua, PKB memegang legitimasi politik Islam yang kuat karena basis konstituennya adalah komunitas muslim yang moderat (NU). Ketiga, PKB merupakan partai politik, dan karenanya dapat memainkan peran dalam pentas politik perwakilan.[3]

 

 

Basis Pendukung

     Dalam menentukan basis pendukung atau warga NU ada beberapa istilah yang perlu di perjelas, yaitu: anggota, pendukung atau simpatisan, serta Muslim tradisionalis yang sepaham dengan NU. Jika istilah warga disamakan dengan istilah anggota, maka sampai hari ini tidak ada satu dokumen resmipun yang bisa dirujuk untuk itu. Hal ini karena sampai saat ini tidak ada upaya serius di tubuh NU di tingkat apapun untuk mengelola keanggotaannya.

     Apabila dilihat dari segi pendukung atau simpatisan, ada dua cara melihatnya. Dari segi politik, bisa dilihat dari jumlah perolehan suara partai-partai yang berbasis atau diasosiasikan dengan NU, seperti PKBU, PNU, PKU, Partai SUNI, dan sebagian dari PPP. Sedangkan dari segi paham keagamaan maka bisa dilihat dari jumlah orang yang mendukung dan mengikuti paham kegamaan NU. Maka dalam hal ini bisa dirujuk hasil penelitian Saiful Mujani (2002) yaitu berkisar 48% dari Muslim santri Indonesia. Suaidi Asyari memperkirakan ada sekitar 51 juta dari Muslim santri Indonesia dapat dikatakan pendukung atau pengikut paham keagamaan NU. Jumlah keseluruhan Muslim santri yang disebut sampai 80 juta atau lebih, merupakan mereka yang sama paham keagamaannya dengan paham kegamaan NU. Namun belum tentu mereka ini semuanya warga atau mau disebut berafiliasi dengan NU.

     Berdasarkan lokasi dan karakteristiknya, mayoritas pengikut NU terdapat di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra. Pada perkembangan terakhir terlihat bahwa pengikut NU mempunyai profesi beragam, meskipun sebagian besar di antara mereka adalah rakyat jelata baik di perkotaan maupun di pedesaan. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi, karena secara sosial ekonomi memiliki problem yang sama, serta selain itu juga sama-sama sangat menjiwai ajaran ahlussunnah wal jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.

     Basis pendukung NU ini cenderung mengalami pergeseran. Sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrilisasi, maka penduduk NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka saat di sektor buruh di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini. Belakangan ini NU sudah memiliki sejumlah doktor atau magister dalam berbagai bidang ilmu selain dari ilmu ke-Islam-an baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk negara-negara Barat. Namun para doktor dan magister ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengurus NU hampir di setiap lapisan kepengurusan NU.

     Menurut Laode Ida[4], setidaknya terdapat empat kekuatan saling terkait yang menjadikan Partai kebangkitan bangsa ( PKB) berdiri dan langsung menjadi partai besar sekarang ini karena berbagai dukungan dari :

     Pertama, basis massanya, yakni warga Nahdlatul Ulama (NU). Pembentukan PKB, diakui atau tidak, karena memang sudah melihat dan memastikan ada basis utama sebagai modal dasar pendukungnya, yakni komunitas NU yang terorganisasi melalui pesantren-pesantren, termasuk komunitas di sekitarnya dan atau para alumni pondok pesantren. Basis massa ini umumnya terkonsentrasi di pulau jawa, yang lebih besar lagi terdapat di jawa timur. Sementara di luar jawa terdapat di sebagian sumatera Utara, Riau, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

     Kedua, Figur KH Abdurrahman Wahid ( biasa dipanggil Gus Dur). Disamping sebagai salah satu figur sentral dalam keluarga besar dan darah Biru NU, juga dikenal dan sangat berpengaruh di tingkat publik (nasional maupun internasional) sebagai tokoh Islam Indonesia, Budayaan, Intlektual, dan negarawan yang pemikiran-pemikirannya tergolong progresif untuk perubahan serta moderat sehingga mencitrakan diri sebagai figur pemayung semua golongan. Pengaruh Gus Dur memang tak diragukan lagi. Ia merupakan Prominent Figure yang konsisten memperjuangkan perubahan ke arah demokratisasi, pejuang tegaknya nilai-nilai pluralisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, figur yang menjadi benteng pertahanan kaum minoritas yang memperjuangkan eksistensi mereka.

     Ketiga, jaringan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), baik yang bergerak di dalam lingkungan komunitas NU maupun di Luar, termasuk yang menjadikan Gus Dur sebagai figur idola dan acuan dalam pemikiran dan gerakan-gerakan mereka. Kita tahu bahwa sejak awal 1970-an, sebagian komunitas NU ( Melalui beberapa Psantren yang figur-figur  kyainya berwatak progresif), sudah mulai di perkenalkan dengan gerakan LSM, dan kemudian semakin memperoleh tempat yang istimewa selama Gus Dur memimpin NU (1984-1999). Para aktivis LSM asal dan yang bergerak di dalam NU, dalam Konteks ini, mengembangkan jaringan lintas komunitas  dan lintas budaya, yang juga sebagian besar menjadikan Gus Dur sebagai salah satu acuan Utama dalam gerakan-gerakan mereka, termasuk di dalamnya di posisikan sebagai figur-benteng pengaman ketika menghadapi persoalan-persoalan politik terkait dengan gerakan-gerakan mereka, yang terkadang bersebrangan secara diametral dengan ideologi kekuasaan ordebaru.

     Keempat, para aktivis muda NU utamanya yang tergabung dalam IPNU, IPPNU, PMII, Ansor dan Fatayat, umumnya menjadi bagian dari pilar pendukung PKB, Di awal berdiri dan pembentukan pengurus PKB, dimana pada saat itu Gus Dur telah memastikan politisi senior asal NU, (alm) Matori Abdul Djalil, kalangan muda NU yang tergabung dalam PMII melakukan semacam maneuver dengan menawarkan Muhaimin Iskandar sebagai sekjen PKB. Konon, pada saat itu, semua elemen PMII di gerakkan untuk memberikan "tanda tangan dukungan" bagi Muhaimin Iskandar yang memang pada saat itu menjadi salah satu figur sentral di kalangan aktifis  mahasiswa asal NU. Dan secara kebetulan, sang figur muda ini  memiliki kedekatan  geneologis dengan Gus Dur sebagai penentu utama dalam penyusunan komposisi kepengurusan PKB pada saat itu.

 

Dinamika

     Visi misi dan prinsip-prinsip dasar Nahdlatul Ulama (NU) yang di Titipkan ke pada partai PKB lebih Khususnya pada pemerintahan Gus Dur  antara lain:

  1. Menghidupkan kembali gerakan pribumisasi Islam, sebagaimana diwariskan oleh para walisongo dan pendahulunya.
  2. Mempelopori perjuangan kebebasan bermadzhab di Mekah, sehingga umat Islam sedunia bisa menjalankan ibadah sesuai dengan madzhab masing-masing.
  3. Mempelopori berdirinya Majlis Islami A'la Indonesia (MIAI) tahun 1937, yang kemudian ikut memperjuangkan tuntutan Indonesia berparlemen.
  4. Memobilisasi perlawanan fisik terhadap kekuatan imperialis melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945.
  5. Berubah menjadi partai politik, yang pada Pemilu 1955 berhasil menempati urutan ketiga dalam peroleh suara secara nasional.
  6. Memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) 1965 yang diikuti oleh perwakilan dari 37 negara.
  7. Memperlopori gerakan Islam kultural dan penguatan civil society di Indonesia sepanjang dekade 90-an.

 

Tujuan Didirikan Partai PKB

     Menurut hasil wawancara kelompok kami kepada narasumber, tujuan utama didirikan partai ini secara kusus adalah Membuat kenyamanan bagi para TKI Indonesia yang berada di luar negeri, kerena pemerintah sekarang menurut beliau tidak menaruh perhatian terhadap TKI kita khususnya yang berada di Arab Saudi, serta tujuan lain adalah menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan secara umumnya adalah membuat tatanan masyarakat yang beradap, yang sejahtera lahir dan batin, yang setiap warganya mampu mengejawantahkan nilai-nilai kemanusiaannya, yang meliputi; terpeliharanya hak-hak dasar manusia, seperti pangan, sandang dan papan, hak atas penghidupan dan perlindungan pekerjaan, hak mendapatkan keselamatan dan bebas dari penganiayaan, terpelihara agama dan larangan adanya pemaksaan agama, terpeliharanya akal dan jaminan atas kebebasan berekspresi serta berpendapat, terpeliharanya keturunanius, jaminan atas perlindungan masa depan generasi penerus dan terpeliharanya harta benda. Tujuan dan misi ini di tumpuh dengan pendekatan amar makruf dan nahi munkar, yakni menyerukan kebajikan  serta mencegah segala kemungkinan dan kenyataan yang mengandung kemungkaran.

Usaha

  1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
  2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.
  3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
  4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat.
  5. mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. PKB berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat

Electoral Thrashold 2014 Di mata PKB

     Hasil wawancara kami menunjukkan bahwa partai ini sudah siap apa bila pemerintah akan menaikkan ambang batas untuk ikut pemilu 2014, bapak Bambang  Sutanto sebagai narasumber kami menjelaskan bahwa anngota kami yang jumlahnya 26 di DPR ini berjuan untuk dalam hal ini, kami sendiri sangat optimis akan bisa lolos pada tahun 2014 nanti, menurut beliau jangankan 5 itu kami bisa capai, dengan calon kami Muhaimin Iskandar yang Visi misinya Pro rakyat saya yakin bisa dan kembali pada masa gemilang dulu dimana pada pemilu tahun 2009 kami mendapat 9 persen, dan pada tahun 2004 kami mendapat 11 persen, tapi sayang nya menurun pada tahun 2009 yakni 4,5 persen. Tapi partai kami optimis akan bisa mencapai 5 persen pada tahun 2014 nanti.

 

Agenda Dan Proyeksi Masa Depan Partai PKB

     Basis sejarah dan modal sosial seperti itu memungkinkan PKB bisa lebih berkonsentrasi dalam mengembagkan fungsinya sebagai partai politik. Tentu basis historis dan modal sosial itu menjadi tidak ada artinya jika tidak di dukung oleh kader-kader yang loyal, militant dan menjadikan politik sebagai proses pendidikan dan sekaligus perjuangan yang bersifat jangka panjang.

     Dengan kader-kader partai yang demikian, PKB bisa membuat suatu Proyeksi masa depan yang memungkinkan gerakan politik PKB menjadi akumulatif dan berkelanjutan, sekaligus menyatu dengan pembangunan bangsa secara umum yang bersifat saling menunjang dan melengkapi. Upaya PKB mengembangkan peran-peran moral dan sosial kiai kampung dimaksudkan untuk menata kembali basis dan modal sosialnya, karena peran kiai secara umum dalam politik nasional sedang mengalami kekacauan. Pemantapan peran kiai kampung dalam gerakan masyarakat adalah sisi lain dari upaya  mengembalikan politik bangsa kedalam orientasi kerakyatan dan kepeloporan.

     Kiai kampung adalah penjaga moral, pemimpin masyarakat yang mengakar karena keihlasannya dan motor penggerak masyarakat dimana ia tinggal. Dalam skala yang lebih luas, ketiga dimensi politik itu perlu dikembangkan dan dirawat secara lebih intensif sehingga proses degradasi kultural politik bangsa bisa diatasi secara bertahap. Keputusan PKB menjadi partai hijau sebagai salah satu visi dan Orientasi politik dilandasi oleh keinginan untuk menyelamatkan lingkungan dan sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini demi kelangsungan hidup bersama dan kepedulian terhadap generasi mendatang. Disaat semua golongan dan partai politik menjadikan lingkungan dan sumber daya alam untuk kepentingan sesaat dan pemuasan nafsu ekonomi belaka, PKB merasa perlu mengambil inisiatif radikal untuk menjadikan masalah lingkungan sebagai salah satu focus perjuangan politiknya.

     Di sisi lain, PKB juga mengembangkan proses pendidikan politik dan kaderisasi berjuang melalui akademi politik kebangsaan. Akademi ini merupakan manifestasi tanggung jawab PKB untuk melakukan pendidikan dan penyadaran politik masyarakat secara umum dan menyiapkan kader-kader politik yang kompeten, bermoral dan bertanggung jawab. PKB menyakini bahwa nilai-nilai moral, politik, demokrasi dan nilai-nilai keutamaan yang lain merupakan sesuatu yang tidak di wariskan secara alamiah, tetapi harus di pelajari dan di kembangkan melalui proses belajar dan keteladanan. Akademi politik kebangsaan menjadi salah satu wadah dan proses belajar tentang banyak hal menyangkut kehidupan masyarakat bangsa di masa lalu, masa kini dan masa depan.

     Itulah agenda strategis dan proyeksi jangka panjang dari politik PKB. Proyeksi ini menjadi payung dan panduan bagi kerja-kerja politik PKB yang bersifat taktis dan praktis baik di tingkat parlemen maupun struktur pemerintahan secara umum. Kerja-kerja politik praktis tanpa proyeksi masa depan adalah politik dagang sapi dan manifestasi paling telanjang dari hedonisme elit. Sedangkan proyeksi jangka panjang yang tidak di lengkapi dengan kerja-kerja praktis hanya akan menjadi utopia.[5]

     Dengan modal dan proses pengembangan politik seperti itu, kita tetap optimis PKB akan eksis sebagai partai politik besar dan memainkan peran yang strategis dalam kehidupan bangsa dimasa kini dan masa depan, baik peran-peran yang bersifat menjembatani berbagai kepentingan dan golongan maupun peran transformative sebagai pembuka jalan setiap perubahan. Lebih dari itu, PKB bisa terus mengembangkan orientasi dan perjuangan politik yang bermanfaat untuk kepentingan nasional secara luas.[6]

 

Dinamika Konflik Partai PKB

     Hasil wawancara kami dengan bapak Bambang  Sutanto, ketika kami menayakan masalah konflik dan masalah- masalah yang menghambat jalannya partai ini beliau menjelaskan bahwa, sesungguhnya konflik itu merupakan hal yang biasa terjadi dalam sebuah Partai, dan ini merupakan dinamika internal dan justru sekarang kami sedang menekankan konsolidasi antara kubu Gus Dur dan Muhaimin, kami selalu menjalin hubungan-hubungan baik dengan mereka, karena tetap saja gedung pusatnya atau kantor pusatnya adalah di jalan Raden Saleh dan bukan di Kalibata. Bagaimanapun, beliau melanjutkan bahwa kubu Muhaimin Iskandar adalah sangat sah menurut undang-undang negara kita.

     Dan jika masalah hambatan partai ini, Alhamdulillah beliau menjelaskan, untuk sekarang ini masih tidak ada, persoalan akan timbul apa bila mendekati pemilu 2014 nanti, bisa berupa masalah dana keuangan, dan perlu di ketahui sekarng PKB sedang melakukan pelatihan Nasional agar mempersiapkan kader-kader PKB yang menjadi ujung tombak bagi partai ini.

     Beliau melanjutkan dengan penuh semangat menjelaskan bahwa pengalaman melewati konflik internal dan bertahan dengan perolehan suara yang relativ sama pada pemilu 2004 telah membuktikan sifat dukungan massa PKB yang berupa supporters, baik itu lebih kepada PKB sebagai institusi partai maupun kepada pribadi Gus Dur. Keduanya memang tidak dapat di pisahkan. Namun, konflik kedua ini lebih serius, sehingga harus dilakukan antisipasi dan kerja lebih keras untuk membangun PKB masa depan. Barangkli harus dirintis persiapan "satu kompi" pemimpin PKB untuk menggantikan peran seorang Gus Dur bagi PkB 10, 20 hingga 50 tahun kedepan.

     Sesungguhnya, konflik yang tersisa dapat dimanfaatkan sebagai momentum perluasan rekrutmen politik, yang berdimensi internal sekaligus eksternal. Secara internal, inilah momentum terbaik untuk membangun CBM institusi, karena PKNU dapat menjadi common denominator untuk konsolidasi. Selain itu, pilihan nama PKNU menyiratkan perebutan basis massa hanya di kalangan Nahdliyin dan bukan di luarnya. Pengalaman sudah membuktikan kemampuan PKB untuk bertahan dari perebutan basis massa tradisional seperti ini. Dominasi PKNU dan PKB juga memberi peluang bagi dimensi eksternal dalam rekrutmen politik. Sementara basis massa tradisionalnya dipertahankan dan di pelihara, PKB dapat melakukan Ekspansi dan ofensif ke simpatisan dan pendukung baru. Simpatisan dan pendukung partai lain barangkali ada yang berminat bergabung dengan PKB karena nama "kebangkitan Bangsa" yang kurang sectarian di banding nama "Kebangkitan Nasional Ulama." Tetapi, jumlah potensi "Kutu loncat" pasti kurang sekali di bandingkan  dengan potensi pemilih pemula.

 

Basis, Aset, Ancaman

     Kenapa Partai ini lebih cepat beradap tasi sebagai "a loser" dan relative cepat bangkit kembali? Jawabanya adalah: Tradisional-nasionalis-religius, yang juga kritis dan jenaka! Basis nasional-religius bukan merupakan keistimewaan PKB seorang diri, hampir semua partai politik di Indonesia cenderung memilih posisi seperti ini. Terminologi "tradisional", entah disukai atau tidak oleh teman-teman di PKB, juga merupakan kekuatan bahkan merupakan asset PKB. Pada suatu sisi, orang-orang dengan spirit emosional-tradisional bisa lebih cepat menyadari jika terdapat kelemahan, kekeliruan, kekalahan; dan dengan cepat pula mengumpulkan seganap sumber daya serta upaya untuk bangkit menggapai kembali capaian sebelumnya! Bisa jadi mereka yang mengandalkan teori-teori rasional-modernis akan terlibat dalam perdebatan dan penentuan strategi ke depan yang jauh lebih memakan waktu.

     Untuk berkiprah ke luar partai, tiga elemen tadi "kritis-jenaka-inklusif" betul-betul merupakan senjata PKB yang disana-sini bisa menutupi persoalan-persoalan yang sedang tumbuh didalam tubuhnya. Berbagai pernyataan kritis yang terlontar secara jenaka, terutama oleh Gus Dur, juga di ikuti oleh Muhaimin Iskandar, dan lain-lain, sangat sering di kutip oleh media besar, umumnya karena dianggap unik (lain dari partai yang lain), cerdas, perpihak kepada rakyat kecil serta terutama mengedepankan (tanpa ragu sedikitpun) spirit inklusivisme!

     Ada komentar dari salah satu tokoh PKB[7] bahwa calon independen bukan solusi terbaik untuk melahirkan calon pemimpin. "Ini hanya keinginan perseorangan yang memiliki syahwat politik sangat tinggi sehingga tidak puas dengan parpol yang ada dan ingin maju sendiri," ujarnya. Padahal, sebelumnya, beberapa alasan ia telah kemukakan dengan cukup baik mengenai kondisi riil partai politik di Indonesia yang makin di jauhi rakyat; namun entah kenapa dia bisa sampai pada kesimpulan yang semacam itu.

     Ini masih dalam konteks dinamika wacana proses-proses politik kedepan untuk menjaring pimpinan yang benar-benar bisa membawa bangsa ini bangkit, sesuasi dengan kata kedua nama PKB. Artinya, ia relative lebih arguable, ketimbang prinsip inklusivisme yang bagi PKB sudah tidak bisa di tawar- tawar lagi.



[1] 13 Alasan Memilih PKB, DPW PKB Jawa Barat, tahun 2008

[2] http://www.nu.or.id

[3] hasil wawancara kelompok kami pada hari kamis tanggal 9 desember 2010 dengan bapak Bambang  Sutanto yang merupakan wakil bendahara DPP PKB pusat

[4] Laode Ida, dalam buku tahun PKB kritik & Harapan, hlm  109

[5] Muhaimin Iskandar, dalam buku tahun PKB kritik & Harapan, hlm  221

[6] hasil wawancara kelompok kami pada hari kamis tanggal 9 desember 2010 dengan bapak Bambang  Sutanto yang merupakan wakil bendahara DPP PKB pusat

[7] Kompas, 7/7/07



Artikel Terkait:

0 komentar

Poskan Komentar