Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Followers

Minggu, 05 Juni 2011

Iran Dan Amerika Menuju Perang

Oleh: Muhammad Alkaf

Pasca kemenangan historis dan dramatik pasukan "majelis taklim" Hizbullah, Lebanon, rencana Amerika dan Israel untuk membangun Timur Tengah Baru dengan peta dari Tel Avif, sungai Furat sampai sungai Nil kini tinggal mimpi belaka. Sekarang telah muncul "Timur Tengah Baru" yang didesain oleh kehendak perjuangan tak kenal lelah Hizbullah. Mitos pasukan Israel yang tak terkalahkan sudah terhapus dari benak dan otak. Sudah tinggal cerita masa lalu bahwa Israel mampu mengalahkan beberapa negara Arab hanya dalam tempo tiga hari selama perang Arab-Israel.

Menghadapi pasukan majelis taklim—saya menyebutnya pasukan majelis taklim, karena jumlah tentara hizbullah hanya ribuan dan dengan peralatan yang "kurang canggih dan pas-pasan" bila dibandingkan dengan persenjatan militer Israel —pasukan Israel bak tikus-tikus yang lari tunggang langgang karena ketakutan. Pasukan Israel harus menelan pil pahit kekalahan bersejarah selam perang 33 hari musim panas tahun lalu.

Kemenangan di luar dugaan banyak kalangan tersebut kiranya mampu menepis anggapan sebagian orang bahwa rasa-rasanya mustahil membebaskan secara permanen al Quds dari cengkraman Israel . Bahwa pembebasan Palestina itu mudah jika umat Islam solid, bersatu dan mempunyai tekad bersama yang kuat. Bukankah Imam Khomaina ra pernah mengatakan bahwa andaikan setiap Muslim membawa satu ember air lalu diguyurkan ke Israel niscaya seluruh Israel tenggelam. Ini sebuah ilustrasi yang menarik. Imam mengingatkan kita bahwa umat Islam mempunyai potensi besar bila mereka mau bersatu untuk menganyang musuhnya. Persoalannya adalah kita masih sibuk dalam perselisihan dan percekcokan internal yang tidak perlu, seperti isu mazhab: Sunnah-Syiah dll.

Jumat terakhir bulan Ramadhan yang dicanangkan Imam Khomaini sebagai hari al Quds dan beliau menyebutnya sebagai hari Islam dan hari pembebasan kaum mustadafin di seluruh dunia adalah keputusan bersejarah yang sangat brilian dan patut diapresiasi secara maksimal oleh umat Islam dimana pun mereka berada. Turunnya jutaan orang di pelbagai belahan propensi Iran untuk meneriakkan yel-yel "mampus Amerika", "mampus Israel" Jumat kemarin, 5/10/2007 begitu juga di Indonesia, Irak, Afghanistan, Lebanon dsb akan menjadi mimpi buruk buat Israel dan isyarat jelas bahwa mereka adalah penjajah dan masa kekuasaan mereka sudah berada di ujung tanduk.

Dunia ke depan mungkin akan menyaksikan serangkaian kejutan-kejutan baru yang lebih di luar dugaan banyak pakar politik. Sesuatu yang pasti adalah bahwa jarum sejarah dunia selalu menuju ke arah Islam. Bola kini selalu mengarah ke Islam. Siapa menyangka Iran yang diembargo lebih dari 20 tahun oleh Amerika dan mengalami "babak belur" selama perang dengan Irak kini dengan mengandalkan potensi sarjana-sarjana dalam negerinya mampu mencapai tehnologi nuklir, bahkan Iran telah mengklaim telah masuk dalam jajaran negera-negara yang menguasai tehnologi nuklir. Siapa mengira, akhirnya justru Hamas yang tidak dikehendaki Barat memimpis mayoritas suara di pemilu Palestina. Siapa menduga skenario Amerika untuk membikin pemerintah boneka di Irak gagal, dan di Irak, mereka justru memasuki lumpur yang sangat sulit bagi mereka untuk keluar darinya. Sementara itu, di Turki, hembusan angin Islam menerpa muka media ketika kelompok berhaluan Islam mampu memperoleh suara signifikan di majelis. Turki yang kental berhaluan sekuler kini harus berhadapan dengan kelompok Islam yang duduk di kursi kekuasaan yang tinggi. Dan Ahmadinejad semakin mengejutkan dan bersinar dan layak disebut "the one man of year" ketika pidato, penampilan santunnya, dan kekuatan logikannya di Universitas Kolombia mampu meredam pertanyaan-pertanyaan nakal ttg Iran dan Islam. Dan minimal selama 2 hari media barat dan media dunia sibuk mengulas dan membicarakan orang nomer wahid di pemerintahan eksekutif Iran ini. Iya, Ahmadinejad keluar sebagai the real winner, sedangkan Bush dan antek-anteknya menikmmati posisi sebagai rennur-up, atau mungkin lebih tepat pecundang.

Media Barat selalu berbicara ttg kemungkinan dan semakin dekatnya operasi militer Amerika terhadap Iran . Utamanya, setelah mereka melihat bahwa Iran tetap bandel dan tak bergeming pasca penjatuhan dua kali sangsi Dewan Keamanan PBB yang tidak terlalu berpengaruh secara signifikan terhadap kebijikan politik dan ekonomi. Persoalannya apakah mudah menginvasi Iran ? Apakah Iran seperti Irak dan Afganistan? Apakah Iran tidak punya peralatan militer berarti yang bisa mengimbangi serangan militer AS? Apakah Amerika dan sekutunya begitu mudah menaklukkan Iran yang terkenal dengan patriotismenya dan semangat syahadah (menjadi syahid di jalan Allah) karena terinspirasi dengan perjuangan Imam Husin as?

Masih cukup segar dalam ingatan kita bahwa perang Irak-Iran , Iran dikeroyok oleh lebih dari 30 negara. Tapi apa yang terjadi? Bara revolusi Islam bukan hanya tidak padam, bahkan semakin menyala dan terang-benderang. Pasukan Islam Iran mampu merebut kembali beberapa kawasan yang dikuasai oleh Pasukan Sadam dengan senjata yang sederhana dan mereka berhasil mencegah ambisi Sadam dan Amerika. Sehingga saking pusingnya Sadam menghadapi pasukan Iran , lalu ia mengunakan senjata Amerika yang dibelinya dari Eropa dan Amerika. Kini, kita tahu bahwa pasukan Iran sekarang bukan hanya tidak lemah bahkan jauh lebih kuat secara moril dan meteril (persenjataan). Bahkan kementeriaan pertahanan Iran baru-baru ini melaporkan bahwa dalam sebagian bidang persenjatan penting, Iran sudah mandiri dan "overdosis" alias lebih dari cukup. Tentu tidak semua persenjatan yang dimiliki Iran dipamerkan ke publik. Alhasil dari apa yang diberitakan saja, persenjatan Iran terasa paling keren dan mentereng di Timur Tengah. Karena itu, wajar saja dan bukan omong kosong bahwa pemimpin spiritual tertinggi Iran , Ayatullah Khamenei berulang kali menegaskan bahwa serangan militer sekecil apapun terhadap negaranya akan dibalas dengan pukulan telak dan keras.

Orang yang menilai bahwa kalau Iran diserang oleh AS maka tamatlah riwayat negeri Mullah ini adalah orang yang tidak tidak baca koran atau tidak mampu membeli koran sehingga tidak tahu menahu apa-apa. Jika memang Iran mudah ditaklukkan dan diduduki, maka logikanya sejak dahulu Amerika akan melakukan itu, bukan malah menunggu tumbuh besar dan kuat. Sebab, pohon Revolusi yang berkah ini telah tumbuh kuat dan akarnya kokoh serta daunnya menjulur ke angkasa, sehingga mencabutnya bukan perkara mudah, kalau tidak dikatakan mustahil. Simpati rakyat dunia sekarang begitu tampak pada Presiden Iran . Ahmadinejad disambut luar biasa oleh rakyat di negara yang dikunjunginya dalam beberapa kunjungannya di kawasan asia , Amerika Latin dll. Bandingkan dengan amarah dan demontrasi anti Bush yang mewarnai lawatannya ke pelbagai penjuru dunia. Menurut hemat saya, hanya ada satu kunci untuk menghabisi dan menguasai Iran , jauhkan umat dari ulamanya dan non-aktifkan majelis-majelis yang menghidupkan peringatan Asyura. Selama di kalbu anak-anak muda Iran masih ada nama Imam Husin dan perjuangannya dalam membela agama kakeknya Nabi Muhammad saw, maka kekuatan apapun di dunia ini tidak akan pernah dapat menumbangkan Republik Islam Iran.

Akhirnya, jika Bush memanfaatkan kegilaan pribadi dan politiknya untuk tetap menyerang Iran , apapun yang terjadi, maka kita akan saksikan peperangan besar yang dampaknya mengelobal dan mendunia. Dan Iran lebih siap untuk menyambut tantangan dan petualangan Amerika. Sedangkan moral pasukan AS saat ini sedang drop karena terbukti banyak tentara mereka yang secara suka rela bunuh diri dan angkanya sangat memprihatinkan dan banyak anak-anak muda lari dari pendaftaran menjadi tentara, sehingga karena itu dewan pertahanan Amerika perlu mengimang-iming mereka dengan gaji yang besar. Sementara Iran memiliki lebih dari 15 juta pasukan basiji (tentara sukarela dari kalangan rakyat yang terlatih secara militer). Dan pasukan Iran merindukan kehadiran di tengah medan perang untuk membela Islam dan meneguk madu syahadah. Tidak ada ibu-ibu yang protes karena anaknya terbunuh seperti yang terjadi di Amerika. Tidak ada istri-istri yang menyalahkan pemerintah karena mengirim suami-suami mereka ke front. Jusru pasukan Iran diantar oleh ibu dan istri mereka menuju front untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Pemandangan seperti ini biasa kita saksikan selama perang Irak-Iran. Dan jangan lupa bahwa masyarakat Iran sangat loyal kepada pemimpin agama. Jika pemimpin spiritiual tertinggi Iran, Ayatullah Khamenei menabuh genderang perang melalui fatwanya maka kita pasti akan menyaksikan mayoritas rakyat Iran, tua-muda akan mendukung dan mengamininya, atau bahkan mensyukurinya karena mereka diberi kesempatan untuk menjadi syahid dan menyetor nama-nama syuhada dari keluarga dan kerabat mereka. Masyarakat seperti ini jangan ditantang dan ditakut-takuti dengan perang, tapi ajaklah damai. Karena bila sedikit saja Anda berlaku zalim kepada mereka, maka mereka akan mengejar dan menuntut Anda.


Artikel Terkait:

0 komentar

Poskan Komentar