Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Followers

Sabtu, 30 April 2011

Rasa Percaya Diri

Pada masa sekarang, pakar pendidikan telah berusaha keras untuk menumbuhkan rasa percaya diri manusia. Rasa percaya diri yang ditumbuhkan Islam adalah menghilangkan harapan yang tidak berasal dari perbuatannya. Apabila seseorang hendak mewujudkan harapannya, ia harus mengusahakannya sendiri. Seperti inilah keterkaitan antara manusia dengan segala sesuatu maupun manusia lainnya.

Keterkaitan itu terjadi melalui amal perbuatan. Anda tidak bisa menyatu dengan Imam Ali bin Abi Thalib as atau dengan Sayyidah Fathimah as kecuali melalui amal perbuatan. Maksudnya, Islam menutup semua pintu keterkaitan dan hubungan dengan Rasulullah SAWW dan Ahlul Baitnya, kecuali melalui pintu beramal. Saya teringat sebuah hadis Nabi yang pernah saya baca sekitar 17-18 tahun silam.

Hadis tersebut membuat saya sangat terkesan. Saya benar-benar melihat kehidupan Nabi nampak sebagai sebuah gambaran kehidupan yang luar biasa, yang tak seorang pun memiliki gambaran kehidupan dan sisi-sisi keagungan seperti itu. Ketika seseorang berpikir dan melihat bagaimana orang yang buta huruf yang hidup dalam lingkungan jahiliyah bisa melontarkan berbagai kalimat yang sedemikian indah dalam hidupnya, tentu ia akan hanyut dalam kekaguman dan mengakui bahwa itu merupakan perbuatan yang luar biasa. Hadis ini telah saya ungkapkan pula dalam kitab Dastân-e Rastân (telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, Orang-orang Bijak, .).

Dalam hadis tersebut dikatakan: Pada suatu ketika, Nabi melakukan perjalanan bersama para sahabatnya (dalam riwayat tidak di sebutkan perjalanan yang mana). Setelah memasuki waktu Zhuhur, beliau memerintahkan kafilah untuk turun. Para sahabat kemudian turun dari tunggangannya, dan Nabi pun juga turun dari ontanya. Beliau kemudian pergi menuju ke suatu arah.

Para sahabat berpikir bahwa Nabi akan melakukan sesuatu. Semua sahabat segera turun dari tunggangan masing-masing. Setelah agak jauh dari ontanya, para sahabat melihat Nabi kembali. Para sahabat menduga, Nabi tidak merasa cocok dengan tempat tersebut dan akan memerintahkan mereka pergi mencari tempat lain. Namun, tatkala kembali ke tunggangannya, Nabi tidak berbicara apapun kepada mereka. Para sahabat melihat Nabi membuka tempat perbekalannya yang menggantung di punggung ontanya dan serta merta mengeluarkan seutas tali. Kemudian beliau mengikat ontanya dan kembali menempuh arah sebelumnya.

Para sahabat terheran-heran melihat Nabi kembali hanya untuk mengikat ontanya. Padahal, itu merupakan pekerjaan yang sepele! Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, jika kamu kembali hanya untuk melakukan pekerjaan ringan ini, mengapa engkau tidak menyuruh kami? (Mereka merupakan para sahabat setia yang apabila Rasulullah menyuruhnya menyeberangi lautan api, mereka pasti akan melakukannya. Kebanggaan mereka adalah menjalankan perintah Rasulullah). Mereka juga mengatakan: "Wahai Rasulullah, untuk pekerjaan remeh ini, mengapa engkau tidak memberikan perintah, padahal kami pasti akan melakukannya?" Beliau menjawab: "Hendaknya kalian jangan minta tolong orang lain dalam melakukan pekerjaan sekecil apapun meskipun hanya untuk mengambilkan sikat gigi (siwak)."

Lakukanlah pekerjaan yang bisa kalian lakukan dan jangan sampai menginginkan orang lain untuk melakukan pekerjaanmu. Lihat, betapa indahnya ungkapan tersebut! Jika kata-kata Nabi ini diucapkan di atas mimbar, tentu itu tidak akan menimbulkan pengaruh apa-apa. Beliau mengucapkan kalimat ini sambil mempraktikkannya. Tujuan saya menyampaikan ini adalah ingin mengingatkan bahwa salah satu pilar dari ajaran Islam adalah menghidupkan pemikiran Islam.

Salah satunya adalah dengan beramal dan bergantung pada amal sendiri. Saya juga ingin menyampaikan materi yang berhubungan dengan moralitas serta beberapa dasar pendidikan Islam lainnya. Masalah pendidikan merupakan masalah yang sensitif dan rawan. Maksudnya, apabila masalah ini diajarkan dengan baik dan benar, maka akan timbul hasil yang sangat luar biasa. Namun jika sedikit saja terjadi penyimpangan, maka secara seratus persen, ia akan menimbulkan pengaruh yang sebaliknya. Sejauh yang saya telaah, khususnya dengan bersandar pada perspektif al-Quran, ternyata hampir sebagian besar pengajaran moral dan pendidikan Islam dilakukan secara terbalik dan menyimpang, sehingga berpengaruh besar terhadap pemikiran kaum muslimin dewasa ini.

Artikel Terkait:

0 komentar

Poskan Komentar