Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Followers

Sabtu, 30 April 2011

Pengertian Zuhud

Tidak ada istilah dalam al-Quran yang menyatakan bahwa manusia harus bersikap zuhud. Istilah tersebut hanya terdapat dalam hadis Nabi dan ucapan para imam suci." Kendati tidak diragukan lagi bahwa inti pengertian dari zuhud juga terkandung dalam al-Quran. Namun, secara khusus, pengertian zuhud banyak disampaikan dalam berbagai ucapan Amirul Mukminin Ali as. Istilah zuhud telah sangat populer di kalangan kita.

Namun, jika kita ingin mencari orang zuhud yang sesuai dengan kriteria hadis dan riwayat, tentunya kita akan sangat kesulitan. Yang kita jumpai dalam kenyataan malahan akan amat berbeda. Julukan zuhud acapkali dinisbahkan kepada banyak individu secara sembarangan. Kadangkala, seseorang mengatakan bahwa si fulan adalah orang yang sangat zuhud. Namun, pada saat kita telusuri orang tersebut, akan nampak kenyataan bahwa ia hanya menjalani kezuhudan secara negatif. Artinya, ia termasuk orang yang hanya merasa puas dengan kehidupan yang dijalaninya.

Karenanya, kita lantas mengatakan bahwa orang yang merasa puas dalam kehidupannya disebut sebagai orang zuhud. Padahal, pengertian zuhud yang sebenarnya bukanlah seperti ini. Salah satu prasyarat kezuhudan adalah merasa puas dengan kehidupan pribadi yang dijalani dan dimilikinya. Pengertian semacam ini memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Namun, temyata tidak setiap orang yang merasa puas dengan apa yang dimilikinya bisa disebut sebagai orang yang zuhud.

Kezuhudan berkaitan erat dengan harta, materi, dan kedudukan duniawi. Jika Anda bertanya, apakah dalam pandangan Islam, keberadaan harta dan materi merupakan sesuatu yang baik atau buruk? Jawabannya jelas tergantung pada tujuan penggunaan harta dan materi? Kekayaan merupakan kekuasaan. Demikian juga dengan kedudukan. Apa tujuan dan maksud yang Anda inginkan dari kekuatan tersebut? Anda adalah anak Adam, hamba sahaya, dan tawanan hawa nafsu sendiri.

Apakah kekuatan berupa harta dan materi akan Anda gunakan untuk memuaskan hawa nafsu pribadi? Jika Anda telah menjadi tawanan hawa nafsu, Anda akan diatur dan didikte olehnya. Anda akan menjadi rakus terhadap harta dan kekayaan. Anda juga akan menjadi seseorang yang gila pangkat dan kedudukan. Demikian seterusnya.

Segala sesuatu yang digunakan semata-mata untuk memenuhi selera hawa nafsu merupakan keburukan. Namun, jika Anda mulai memperbaiki diri, tidak menjadi penyembah berhala hawa nafsu, menjauhkan egoisme dari dalam diri, memiliki tujuan sosial, menjadi seorang religius yang taat pada Tuhan, maka harta dan kekayaan yang merupakan kekuasaan, akan Anda gunakan untuk tujuan suci dan mulia. Ini merupakan ibadah. Begitu pula jika Anda menginginkan pangkat dan kedudukan demi maksud-maksud spiritual. Apa yang saya kemukakan ini bukanlah berasal dari pribadi saya sendiri, melainkan ungkapan dari Imam Ja'far Shadiq as.

Pada masa Imam Ja'far Shadiq as, banyak bermunculan ulama zuhud yang bodoh. Mereka berdebat dengan Imam Ja'far.as tentang masalah zuhud. (Imam Ja'far mengatakan): "Jika pengertian zuhud seperti yang kalian sampaikan, lantas bagaimana dengan Nabi Yusuf yang menurut al-Quran adalah Nabi dan hamba Allah yang shalih. Mengapa ketika terbukti tidak bersalah dan dikeluarkan dari penjara, Nabi Yusuf malah berkata kepada penguasa Mesir: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." Ternyata Nabi Yusuf menghendaki jabatan tinggi dalam pemerintahan. Beliau mengatakan: "Serahkanlah padaku seluruh pengaturan keuangan yang ada."

Mengapa al-Quran menceritakan kisah Nabi Yusuf tersebut dan tidak menganggap tindakannya sebagai sebuah tabu? Lagi pula, mengapa al-Quran tidak menyatakan beliau sebagai orang yang rakus dunia? Semua ini dikarenakan Nabi Yusuf bukan penyembah materi. Sejak awal kehidupannya, beliau telah menjadi penyembah Allah, bukan seorang hedonis atau penyembah harta dunia.

Segenap pangkat dan jabatan yang dikehendaki Nabi Yusuf as akan digunakannya untuk mencapai tujuan-tujuan spiritual dan religius. Dikarenakan menghendaki tujuan spiritual dan religius, maka apa yang beliau lakukan tidak bisa disebut dengan upaya mencari pemenuhan kepentingan duniawi. Sebaliknya, upaya beliau justru ditujukan untuk kepentingan eskatologis (ukhrawi atau keakhiratan).

Artikel Terkait:

0 komentar

Poskan Komentar