| Di bulan Mei-Juni setiap tahunnya di Iran digelar seminar untuk mengenang seorang pemikir dan filsuf besar yang sangat berjasa dalam mengembangkan filsafat Islam. Tak sedikit yang meyakini bahwa tanpa beliau filsafat Islam tak mungkin dikenal seperti saat ini. Pemikir besar ini adalah sang hakeem dan faqeeh, Mulla Sadra. Henry Corbin, filsuf besar kontemporer Prancis mengatakan, "Sadruddin Mohammad Shirazi yang dikenal dengan nama Mulla Sadra adalah orang yang berhasil menapak di puncak filsafat Iran dan Islam. Karya pemikirannya masih mempengaruhi pemikian filsafat Iran hingga hari ini. Dia meninggalkan lebih dari 45 karya besar penulisan. Karyanya yang paling besar adalah kitab al-Asfar al-Arba'ah yang setelah ditulis buku itu menjadi pijakan bagi pemikiran para cendekiawan Iran. Dalam karyanya yang memberikan penjelasan atas kitan Ushul Kafi, Mulla Sadra tampil layaknya juru bicara pemikiran iluminasi yang melahirkan sebuah filsafat nabawi. Beliau juga menulis tafsir beberapa surah al-Quran. Dengan karya-karya besarnya, Mulla Sadra menunjukkan bagaimana filsafat di dunia Islam Syiah berkembang dengan pesat di saat negeri-negeri Islam lainnya mengalami stagnansi." Mulla Sadra adalah seorang pemikir yang jeli dan teliti. Ilmunya yang dalam nampak pada kepribadiannya yang penyabar dan kesalehannya. Ia adalah figur ulama yang bertaqwa yang hanya melangkah demi keridhaan Allah. Kehidupannya dipenuhi dengan zuhud, qanaah dan ibadah. Filsuf besar ini melaksanakan ibadah haji sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan pulang dari hajinya yang terakhir tahun 1050 Hijriyah, Mulla Sadra menutup mata untuk selamanya di sekitar kota Basra Irak. Seperti yang telah dijelaskan bahwa setiap tahun antara bulan Mei dan Juni di Iran digelar seminar tentang Mullah Sadra. Seminar Mulla Sadra tahun 2008 mengambil tema Hikmah Mutaaliyah dan Pengelolaan Keluarga. Sejumlah pemikir dan filsuf yang hadir dalam seminar ini membawakan makalah mereka tentang pemikiran Mulla Sadra. Ayatollah Sayid Mohammad Khamenei, Ketua Lembaga Hikmah Islam Sadra dalam sambutannya pada seminar ini mengatakan, "Para filsuf Muslim tidak pernah mengucilkan diri mereka dari masyarakat. Tak hanya itu, mereka bahkan memasukkan filsafat ke tengah masyarakat dan memanfaatkannya untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial. Di puncak pemikir adalah para nabi yang memikirkan kebaikan masyarakat umum." Ayatollah Mohammad Khamenei mengenai pengaturan keluarga mengatakan, "Keluarga memiliki tanggung jawab untuk membantu mencapai kemuliaan insani. Menurut logika pertama kali seseorang harus membangun dirinya sendiri lalu membentuk keluarga dan kemudian masuk ke lingkungan sosial. Dalam hal ini, keluarga lebih diprioritaskan dibanding individu. Sebab, keluarga adalah landasan bagi terbentuknya tatanan sosial dan individu. Pendidikan akhlak setiap individu juga dimulai dari keluarga." Pemikir Muslim ini menambahkan, "Keluarga juga memiliki pengaruh dalam politik. Tentunya yang dimaksudkan politik ini, bukan makna yang dikenal saat ini tetapi dalam arti mengatur sebuah masyarakat seperti yang biasa disebutkan dalam filsafat. Keluarga bukan hanya institusi pembentuk insan yang sehat tetapi juga pembimbing baginya dengan menunjukkan jalan kesuksesan di tengah masyarakat." Ayatollah Sayid Mohammad Khamenei lebih lanjut menyebut peran keluarga dalam membantu perkembangan dan penyempurnaan sisi kemanusiaan. Pembicara lain dalam seminar Mulla Sadra adalah Dr. Gholam Reza Aavani, Ketua Yayasan Riset Hikmah dan Filsafat Iran. Aavani mengatakan, "Pengaturan adalah bagian dari hikmah kebijaksanaan dan ilmu yang di zaman dahulu mendapat perhatian besar di banyak negeri seperti Cina, India dan Iran kuno. Secara prinsipnya, akhlak yang semestinya tanpa keluarga atau keluarga tanpa akhlak tidak bisa dibenarkan. Dalam agama Konfosius ada lima hubungan penting yang diperlukan untuk meluruskan masyarakat. Kelima hubungan adalah, hubungan penguasa dengan rakyat, hubungan ayah dengan anaknya, hubungan saudara dengan saudaranya, hubungan suami dengan istri, dan hubungan teman dengan temannya. Di Iran kuno kelima hubungan ini mendapat perhatian yang besar." "Mulla Sadra adalah ulama besar yang membaca pemikiran dan kata-kata Ahlul Bait Nabi Saw dengan hikmah. Melalui agama, al-Quran dan Ahlul Bait, beliau membahas filsafat dan hikmah. Dalam hikmah Mulla Sadra menekankan soal ilmu dan pengamalan. Dari sana seseorang dapat mencapai kemampuan dalam mengatur keluarga. Keluarga adalah institusi yang membangun. Menurut pandangan Mulla Sadra, kita dapat mempengaruhi perkembangan kejiwaan dan spiritual anak bahkan sejak ia belum lahir ke dunia. Akhlak serta perilaku ayah dan ibu, menyantap makanan yang haram atau sebaliknya memperhatikan kesucian makanan, jauh sebelum kelahiran anak, berdampak pada kejiwaan dan pembentukan kepribadiannya." Ketua Dewan Keilmuan Universitas Shahid Beheshti Tehran Dr Mostafa Mohaqqeq Damad yang juga menjadi pembicara dalam seminar ini mengatakan, "Masalah pengaturan rumah tangga dipandang penting oleh para filsuf sejak dahulu. Dewasa ini dalam sistem yang kini ada keluarga adalah bagian dari hak sipil. Meski demikian, keluarga adalah sebuah institusi yang tidak dirambah oleh hukum, yang ada di sana adalah cinta dan kasih sayang yang jauh lebih kuat dari aturan hukum." Mohaqqeq Damad menambahkan, "Materi yang disampaikan oleh Mulla Sadra tentang pengaturan keluarga tidak detail, tetapi beliau menekankan soal prinsip kemuliaan insani. Mulla Sadra dengan tegas mengatakan kemuliaan insani adalah hal yang membuat manusia layak menyandang gelar khalifah Allah di muka bumi. Kemuliaan ini ada pada kekuatan keilmuan dan hikmah. Jika kekuatan ini tidak dimiliki manusia maka ia tidak lagi memiliki kelebihan. Mulla Sadra lantas mengulas pertanyaan tentang mengapa sebagian orang tidak memiliki kemuliaan ini? Beliau memaparkan beberapa hal diantaranya bahwa secara fisikal dan perilaku maupun tabiat, antara satu orang dengan orang lain ada perbedaan yang sering kali diwarisi dari orang tuanya. Faktor lain perbedaan adalah benih yang membentuk orang tersebut. Kesucian dan kekotoran darah ayah dan ibu akan berpindah kepada anaknya. Ada pula faktor lain yaitu perbedaan gaya hidup maupun kebiasaan baik dan buruk yang sangat berpengaruh pada pembentukan karakter seseorang. Ini semua kembali kepada keluarga. Karena itu, keluarga memiliki peran yang besar dalam melahirkan kemuliaan insani. {Irib} |
| Di bulan Mei-Juni setiap tahunnya di Iran digelar seminar untuk mengenang seorang pemikir dan filsuf besar yang sangat berjasa dalam mengembangkan filsafat Islam. Tak sedikit yang meyakini bahwa tanpa beliau filsafat Islam tak mungkin dikenal seperti saat ini. Pemikir besar ini adalah sang hakeem dan faqeeh, Mulla Sadra. Henry Corbin, filsuf besar kontemporer Prancis mengatakan, "Sadruddin Mohammad Shirazi yang dikenal dengan nama Mulla Sadra adalah orang yang berhasil menapak di puncak filsafat Iran dan Islam. Karya pemikirannya masih mempengaruhi pemikian filsafat Iran hingga hari ini. Dia meninggalkan lebih dari 45 karya besar penulisan. Karyanya yang paling besar adalah kitab al-Asfar al-Arba'ah yang setelah ditulis buku itu menjadi pijakan bagi pemikiran para cendekiawan Iran. Dalam karyanya yang memberikan penjelasan atas kitan Ushul Kafi, Mulla Sadra tampil layaknya juru bicara pemikiran iluminasi yang melahirkan sebuah filsafat nabawi. Beliau juga menulis tafsir beberapa surah al-Quran. Dengan karya-karya besarnya, Mulla Sadra menunjukkan bagaimana filsafat di dunia Islam Syiah berkembang dengan pesat di saat negeri-negeri Islam lainnya mengalami stagnansi." Mulla Sadra adalah seorang pemikir yang jeli dan teliti. Ilmunya yang dalam nampak pada kepribadiannya yang penyabar dan kesalehannya. Ia adalah figur ulama yang bertaqwa yang hanya melangkah demi keridhaan Allah. Kehidupannya dipenuhi dengan zuhud, qanaah dan ibadah. Filsuf besar ini melaksanakan ibadah haji sebanyak tujuh kali dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan pulang dari hajinya yang terakhir tahun 1050 Hijriyah, Mulla Sadra menutup mata untuk selamanya di sekitar kota Basra Irak. Seperti yang telah dijelaskan bahwa setiap tahun antara bulan Mei dan Juni di Iran digelar seminar tentang Mullah Sadra. Seminar Mulla Sadra tahun 2008 mengambil tema Hikmah Mutaaliyah dan Pengelolaan Keluarga. Sejumlah pemikir dan filsuf yang hadir dalam seminar ini membawakan makalah mereka tentang pemikiran Mulla Sadra. Ayatollah Sayid Mohammad Khamenei, Ketua Lembaga Hikmah Islam Sadra dalam sambutannya pada seminar ini mengatakan, "Para filsuf Muslim tidak pernah mengucilkan diri mereka dari masyarakat. Tak hanya itu, mereka bahkan memasukkan filsafat ke tengah masyarakat dan memanfaatkannya untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial. Di puncak pemikir adalah para nabi yang memikirkan kebaikan masyarakat umum." Ayatollah Mohammad Khamenei mengenai pengaturan keluarga mengatakan, "Keluarga memiliki tanggung jawab untuk membantu mencapai kemuliaan insani. Menurut logika pertama kali seseorang harus membangun dirinya sendiri lalu membentuk keluarga dan kemudian masuk ke lingkungan sosial. Dalam hal ini, keluarga lebih diprioritaskan dibanding individu. Sebab, keluarga adalah landasan bagi terbentuknya tatanan sosial dan individu. Pendidikan akhlak setiap individu juga dimulai dari keluarga." Pemikir Muslim ini menambahkan, "Keluarga juga memiliki pengaruh dalam politik. Tentunya yang dimaksudkan politik ini, bukan makna yang dikenal saat ini tetapi dalam arti mengatur sebuah masyarakat seperti yang biasa disebutkan dalam filsafat. Keluarga bukan hanya institusi pembentuk insan yang sehat tetapi juga pembimbing baginya dengan menunjukkan jalan kesuksesan di tengah masyarakat." Ayatollah Sayid Mohammad Khamenei lebih lanjut menyebut peran keluarga dalam membantu perkembangan dan penyempurnaan sisi kemanusiaan. Pembicara lain dalam seminar Mulla Sadra adalah Dr. Gholam Reza Aavani, Ketua Yayasan Riset Hikmah dan Filsafat Iran. Aavani mengatakan, "Pengaturan adalah bagian dari hikmah kebijaksanaan dan ilmu yang di zaman dahulu mendapat perhatian besar di banyak negeri seperti Cina, India dan Iran kuno. Secara prinsipnya, akhlak yang semestinya tanpa keluarga atau keluarga tanpa akhlak tidak bisa dibenarkan. Dalam agama Konfosius ada lima hubungan penting yang diperlukan untuk meluruskan masyarakat. Kelima hubungan adalah, hubungan penguasa dengan rakyat, hubungan ayah dengan anaknya, hubungan saudara dengan saudaranya, hubungan suami dengan istri, dan hubungan teman dengan temannya. Di Iran kuno kelima hubungan ini mendapat perhatian yang besar." "Mulla Sadra adalah ulama besar yang membaca pemikiran dan kata-kata Ahlul Bait Nabi Saw dengan hikmah. Melalui agama, al-Quran dan Ahlul Bait, beliau membahas filsafat dan hikmah. Dalam hikmah Mulla Sadra menekankan soal ilmu dan pengamalan. Dari sana seseorang dapat mencapai kemampuan dalam mengatur keluarga. Keluarga adalah institusi yang membangun. Menurut pandangan Mulla Sadra, kita dapat mempengaruhi perkembangan kejiwaan dan spiritual anak bahkan sejak ia belum lahir ke dunia. Akhlak serta perilaku ayah dan ibu, menyantap makanan yang haram atau sebaliknya memperhatikan kesucian makanan, jauh sebelum kelahiran anak, berdampak pada kejiwaan dan pembentukan kepribadiannya." Ketua Dewan Keilmuan Universitas Shahid Beheshti Tehran Dr Mostafa Mohaqqeq Damad yang juga menjadi pembicara dalam seminar ini mengatakan, "Masalah pengaturan rumah tangga dipandang penting oleh para filsuf sejak dahulu. Dewasa ini dalam sistem yang kini ada keluarga adalah bagian dari hak sipil. Meski demikian, keluarga adalah sebuah institusi yang tidak dirambah oleh hukum, yang ada di sana adalah cinta dan kasih sayang yang jauh lebih kuat dari aturan hukum." Mohaqqeq Damad menambahkan, "Materi yang disampaikan oleh Mulla Sadra tentang pengaturan keluarga tidak detail, tetapi beliau menekankan soal prinsip kemuliaan insani. Mulla Sadra dengan tegas mengatakan kemuliaan insani adalah hal yang membuat manusia layak menyandang gelar khalifah Allah di muka bumi. Kemuliaan ini ada pada kekuatan keilmuan dan hikmah. Jika kekuatan ini tidak dimiliki manusia maka ia tidak lagi memiliki kelebihan. Mulla Sadra lantas mengulas pertanyaan tentang mengapa sebagian orang tidak memiliki kemuliaan ini? Beliau memaparkan beberapa hal diantaranya bahwa secara fisikal dan perilaku maupun tabiat, antara satu orang dengan orang lain ada perbedaan yang sering kali diwarisi dari orang tuanya. Faktor lain perbedaan adalah benih yang membentuk orang tersebut. Kesucian dan kekotoran darah ayah dan ibu akan berpindah kepada anaknya. Ada pula faktor lain yaitu perbedaan gaya hidup maupun kebiasaan baik dan buruk yang sangat berpengaruh pada pembentukan karakter seseorang. Ini semua kembali kepada keluarga. Karena itu, keluarga memiliki peran yang besar dalam melahirkan kemuliaan insani. {Irib} |
Mulla Sadra
Imam Musa Sadr masih hidup. Berita semacam ini mungkin seringkali terdengar. Akan tetapi pemberitaan masih hidupnya Imam Musa Sadr di tengah Revolusi Rakyat di Libya, tentunya mempunyai kesan yang berbeda.
Beberapa hari lalu, Sami al-Misrati, seorang tokoh oposisi rezim berkuasa Libya dalam wawancaranya dengan televisi Alalam menyatakan, "Sebuah pesawat kecil kemarin (Senin, 21/2) merelokasi seorang yang ciri-cirinya seperti Imam Musa Sadr, dari bandara al-Abraq."
Kemudian setelah itu, para perwira militer Libya sebagaimana dikutip Situs Al-Muhit menyatakan bahwa Imam Musa Sadr hingga sekarang masih hidup. Menurut keterangan para perwira tersebut, Imam Musa Sadr ada di penjara Sabha.
Pada 25 Agustus 1978, Imam Musa Sadr bersama dua orang yaitu, Syeikh Muhammad Yaqub dan Abbas Badruddin, pimpinan redaksi kantor berita Lebanon, tiba di Libya. Menurut rencana tanggal 29 atau 30 Agustus, mereka akan berdialog dengan Presiden Libya, Muammar Gaddafi. Namun sejak itu hingga kini Imam Musa Sadr raib tanpa jejak. Para pejabat tinggi Libya mengklaim bahwa Gaddafi mendadak membatalkan pertemuannya dengan Imam Musa Sadr.
Peristiwa itu memang sudah lama terjadi. Meski demikian, ketokohan Imam Musa Sadr menjadi nostalgia tersendiri bagi orang-orang yanh merindukan sosok ulama dan pejuang yang nyaris sempurna. Untuk itu, sangatlah tepat jika ada catatan ringkas yang mengulas ketokohan dan keagungan Imam Musa Sadr. Siapakah tokoh ini sehingga Parlemen Iran menaruh perhatian khusus bahkan membentuka komite khusus di parlemen dari semenjak raibnya pada tahun 1978 hingga kini?
Imam Musa Sadr dan Imam Khomeini
Ketika mendengar Imam Khomeini ra diasingkan ke Najaf, Imam Musa Shadr langsung ke tempat kediaman Imam Khomeini. Bersamaan dengan kedatangan Imam Musa Sadr, ada rombongan dari Iran. Rombongan itu bertanya kepada Imam Khomeini, siapakah yang akan melanjutkan perjuangan ini bila Imam Khomeini tiada? Pertanyaan ini sangatlah wajar. Terlebih Imam Khomeini saat itu mendapat ancaman dari rezim Shah Pahlavi. Mendengar pertanyaan itu, Imam Khomeini dengan tenang menjawab, "Selama ada Imam Musa Shadr, kalian tidak perlu khawatir."
Jawaban itu kemudian dipahami bahwa Imam Musa Sadr adalah pengganti Imam Khomeini. Selain itu, pernyataan Imam Khomeini menjelaskan kesamaan perpektif dan idealisme Imam Khomeini dan Imam Musa Sadr.
Syiah, Sunni dan Kristen
Setelah Imam Musa Shadr pindah ke Lebanon, sosok kepemimpinan beliau mulai dikenal di dunia internasional. Bahkan sepak terjangnya menkhawatirkan Barat dan Rezim Zionis Israel. Siapapun yang menjadi musuh Barat dan Zionis Israel akan menjadi sosok yang menjadi perhastian luas di tingkat dunia. Imam Musa Sadr bukan saja sosok yang mampu mempersatukan Syiah dan Sunni di Lebanon, tapi beliau juga tokoh yang mampu mempersatukan Islam dan Kristen. Uskup Agung Lebanon waktu itu mengatakan, "Seandainya kami memiliki tokoh seperti Imam Musa Shadr, kami dapat memimpin dunia."
Film The Message
Ingatkah Film The Message yang pemeran utamanya adalah Anthony Quinn .Film tentang Nabi Muhammad Saw, The Message yang disutradarai oleh Moustapha Akkad pada awalnya, ditentang oleh seluruh umat Islam sedunia. Tapi Akkad kemudian mendapatkan semangat baru untuk membuat film tersebut setelah mendapat dorongan dari Imam Musa Shadr. Karena Itulah nama Imam Musa Sadr tercantum setelah nama-nama pemain dan kru film yang biasa ditampilkan di akhir film.
Setelah membuat film itu dan mendapat pujian dari banyak kalangan bahkan ulama Islam, Imam Musa Shadr meminta Akkad untuk membuat film tentang Imam Ali as. Moustapha Akkad mengatakan, "Saya akan membuatnya tapi dengan syarat pemeran Imam Ali as adalah anda sendiri." Imam Musa Sadr hanya menanggapinya dengan senyum. Kata Akkad, "Imam Musa Sadr hanya tersenyum mendengar usulan saya itu."
Qom
Imam Musa Shadr melewati masih muda di kota Qom. Beliau ketika masih muda di tidak hanya belajar fiqih dan ushul fiqih, tapi juga Filsafat. Imam Musa Sadr juga belajar "Manzhumah" bersama saudaranya Sayyid Ridha.
Ketika Allamah Thaba'thaba'i mengajar buku Asfar Arba'ah, Imam Musa Shadr langsung juga ikut dalam kuliah Allamah dan menjadi salah satu murid terbaiknya. Syahid Muthahhari mengatakan, "Musa Sadr merupakan sosok terbaik yang dengan mudah menyelesaikan masalah-masalah kompleks dari buku Manzhumah. Ia adalah orang terbaik yang mampu memahami ucapan-ucapan Mulla Sadra dengan benar."
Najaf
Imam Musa Sadr ketika melanjutkan pendidikannya di Najaf, beliau belajar mata kuliah kharij fiqih dan ushul fiqih (jenjang terakhir kuliah fikih yang bisa disetarakan dengan jenjang kuliah doktoral) kepada Ayatullah Sayyid Muhsin al-Hakim, Sayyid Abul Qasim Khu'i, Sayyid Mahmoud Syahroudi dan Syeikh Murtadha Ali Yasin. Mereka adalah ulama besar Najaf waktu itu. Selain itu, Imam Musa Sadr juga belajar filsafat kepada Ayatullah Badkoubeh.
Ayatullah Sayyid Khu'i punya perhatian khusus kepadanya. Ketika Imam Musa Shadr meninggalkan hauzah Najaf, Ayatullah Khu'i mengatakan, "Bila dia tinggal dua atau tiga tahun lagi di Najaf, Imam Musa Sadr bakal menjadi ulama Syiah terbesar di dunia." Meratapi kepergian Imam Musa Sadr Ayatullah Khu'i mengatakan, "Sangat disayangkan dia meninggalkan Najaf. Akan lebih baik bila saya tidak pernah mengenalnya."
Banyak yang menyayangkan keputusan Imam Musa Sadr untuk pergi ke Lebanon . Sayyid Muhammad Baqir Shadr (Syahid Shadr) yang juga sepupunya mengatakan, "Bila Imam Musa Sadr tetap komitmen dengan tradisi hauzah dan tinggal di Najaf , ia bakal menjadi satu-satunya marji mutlak Syiah."
Sebagian lainnya meyakini bahwa Lebanon terlalu kecil bagi Imam Musa Sadr. Apalagi beliau dikenal sebagai sosok yang punya program untuk masa depan. Menurut mereka, sangat disayangkan bila Imam Musa Sadr membatasi dirinya di tempat yang kecil.
Imam Musa Sadr mendengar semua ucapan ini. Tapi beliau telah membulatkan tekadnya untuk bertolak ke Lebanon. Untuk itu, beliau mencoba hidup selama sebulan di Lebanon dengan melihat kehidupan di sana dari dekat. Selama sebulan itu pula Imam Musa Shadr begitu terharu atas kondisi masyarakat Syiah di sana yang hidup dalam kemiskinan.
Ketika kembali ke Qom, Imam Musa Sadr tidak lagi berpikiran soal hauzah dan masalah marjaiyah. Kepada seorang dari temannya beliau berkata, "Semua pelajar tinggal di Najaf untuk menjadi mujtahid.
SUmber :http://indonesian.irib.ir Agil asshofie 04:27:00 Admin Tangerang Indonesia
Perjuangan Imam Musa Sadr
Imam Musa Sadr masih hidup. Berita semacam ini mungkin seringkali terdengar. Akan tetapi pemberitaan masih hidupnya Imam Musa Sadr di tengah Revolusi Rakyat di Libya, tentunya mempunyai kesan yang berbeda.
Beberapa hari lalu, Sami al-Misrati, seorang tokoh oposisi rezim berkuasa Libya dalam wawancaranya dengan televisi Alalam menyatakan, "Sebuah pesawat kecil kemarin (Senin, 21/2) merelokasi seorang yang ciri-cirinya seperti Imam Musa Sadr, dari bandara al-Abraq."
Kemudian setelah itu, para perwira militer Libya sebagaimana dikutip Situs Al-Muhit menyatakan bahwa Imam Musa Sadr hingga sekarang masih hidup. Menurut keterangan para perwira tersebut, Imam Musa Sadr ada di penjara Sabha.
Pada 25 Agustus 1978, Imam Musa Sadr bersama dua orang yaitu, Syeikh Muhammad Yaqub dan Abbas Badruddin, pimpinan redaksi kantor berita Lebanon, tiba di Libya. Menurut rencana tanggal 29 atau 30 Agustus, mereka akan berdialog dengan Presiden Libya, Muammar Gaddafi. Namun sejak itu hingga kini Imam Musa Sadr raib tanpa jejak. Para pejabat tinggi Libya mengklaim bahwa Gaddafi mendadak membatalkan pertemuannya dengan Imam Musa Sadr.
Peristiwa itu memang sudah lama terjadi. Meski demikian, ketokohan Imam Musa Sadr menjadi nostalgia tersendiri bagi orang-orang yanh merindukan sosok ulama dan pejuang yang nyaris sempurna. Untuk itu, sangatlah tepat jika ada catatan ringkas yang mengulas ketokohan dan keagungan Imam Musa Sadr. Siapakah tokoh ini sehingga Parlemen Iran menaruh perhatian khusus bahkan membentuka komite khusus di parlemen dari semenjak raibnya pada tahun 1978 hingga kini?
Imam Musa Sadr dan Imam Khomeini
Ketika mendengar Imam Khomeini ra diasingkan ke Najaf, Imam Musa Shadr langsung ke tempat kediaman Imam Khomeini. Bersamaan dengan kedatangan Imam Musa Sadr, ada rombongan dari Iran. Rombongan itu bertanya kepada Imam Khomeini, siapakah yang akan melanjutkan perjuangan ini bila Imam Khomeini tiada? Pertanyaan ini sangatlah wajar. Terlebih Imam Khomeini saat itu mendapat ancaman dari rezim Shah Pahlavi. Mendengar pertanyaan itu, Imam Khomeini dengan tenang menjawab, "Selama ada Imam Musa Shadr, kalian tidak perlu khawatir."
Jawaban itu kemudian dipahami bahwa Imam Musa Sadr adalah pengganti Imam Khomeini. Selain itu, pernyataan Imam Khomeini menjelaskan kesamaan perpektif dan idealisme Imam Khomeini dan Imam Musa Sadr.
Syiah, Sunni dan Kristen
Setelah Imam Musa Shadr pindah ke Lebanon, sosok kepemimpinan beliau mulai dikenal di dunia internasional. Bahkan sepak terjangnya menkhawatirkan Barat dan Rezim Zionis Israel. Siapapun yang menjadi musuh Barat dan Zionis Israel akan menjadi sosok yang menjadi perhastian luas di tingkat dunia. Imam Musa Sadr bukan saja sosok yang mampu mempersatukan Syiah dan Sunni di Lebanon, tapi beliau juga tokoh yang mampu mempersatukan Islam dan Kristen. Uskup Agung Lebanon waktu itu mengatakan, "Seandainya kami memiliki tokoh seperti Imam Musa Shadr, kami dapat memimpin dunia."
Film The Message
Ingatkah Film The Message yang pemeran utamanya adalah Anthony Quinn .Film tentang Nabi Muhammad Saw, The Message yang disutradarai oleh Moustapha Akkad pada awalnya, ditentang oleh seluruh umat Islam sedunia. Tapi Akkad kemudian mendapatkan semangat baru untuk membuat film tersebut setelah mendapat dorongan dari Imam Musa Shadr. Karena Itulah nama Imam Musa Sadr tercantum setelah nama-nama pemain dan kru film yang biasa ditampilkan di akhir film.
Setelah membuat film itu dan mendapat pujian dari banyak kalangan bahkan ulama Islam, Imam Musa Shadr meminta Akkad untuk membuat film tentang Imam Ali as. Moustapha Akkad mengatakan, "Saya akan membuatnya tapi dengan syarat pemeran Imam Ali as adalah anda sendiri." Imam Musa Sadr hanya menanggapinya dengan senyum. Kata Akkad, "Imam Musa Sadr hanya tersenyum mendengar usulan saya itu."
Qom
Imam Musa Shadr melewati masih muda di kota Qom. Beliau ketika masih muda di tidak hanya belajar fiqih dan ushul fiqih, tapi juga Filsafat. Imam Musa Sadr juga belajar "Manzhumah" bersama saudaranya Sayyid Ridha.
Ketika Allamah Thaba'thaba'i mengajar buku Asfar Arba'ah, Imam Musa Shadr langsung juga ikut dalam kuliah Allamah dan menjadi salah satu murid terbaiknya. Syahid Muthahhari mengatakan, "Musa Sadr merupakan sosok terbaik yang dengan mudah menyelesaikan masalah-masalah kompleks dari buku Manzhumah. Ia adalah orang terbaik yang mampu memahami ucapan-ucapan Mulla Sadra dengan benar."
Najaf
Imam Musa Sadr ketika melanjutkan pendidikannya di Najaf, beliau belajar mata kuliah kharij fiqih dan ushul fiqih (jenjang terakhir kuliah fikih yang bisa disetarakan dengan jenjang kuliah doktoral) kepada Ayatullah Sayyid Muhsin al-Hakim, Sayyid Abul Qasim Khu'i, Sayyid Mahmoud Syahroudi dan Syeikh Murtadha Ali Yasin. Mereka adalah ulama besar Najaf waktu itu. Selain itu, Imam Musa Sadr juga belajar filsafat kepada Ayatullah Badkoubeh.
Ayatullah Sayyid Khu'i punya perhatian khusus kepadanya. Ketika Imam Musa Shadr meninggalkan hauzah Najaf, Ayatullah Khu'i mengatakan, "Bila dia tinggal dua atau tiga tahun lagi di Najaf, Imam Musa Sadr bakal menjadi ulama Syiah terbesar di dunia." Meratapi kepergian Imam Musa Sadr Ayatullah Khu'i mengatakan, "Sangat disayangkan dia meninggalkan Najaf. Akan lebih baik bila saya tidak pernah mengenalnya."
Banyak yang menyayangkan keputusan Imam Musa Sadr untuk pergi ke Lebanon . Sayyid Muhammad Baqir Shadr (Syahid Shadr) yang juga sepupunya mengatakan, "Bila Imam Musa Sadr tetap komitmen dengan tradisi hauzah dan tinggal di Najaf , ia bakal menjadi satu-satunya marji mutlak Syiah."
Sebagian lainnya meyakini bahwa Lebanon terlalu kecil bagi Imam Musa Sadr. Apalagi beliau dikenal sebagai sosok yang punya program untuk masa depan. Menurut mereka, sangat disayangkan bila Imam Musa Sadr membatasi dirinya di tempat yang kecil.
Imam Musa Sadr mendengar semua ucapan ini. Tapi beliau telah membulatkan tekadnya untuk bertolak ke Lebanon. Untuk itu, beliau mencoba hidup selama sebulan di Lebanon dengan melihat kehidupan di sana dari dekat. Selama sebulan itu pula Imam Musa Shadr begitu terharu atas kondisi masyarakat Syiah di sana yang hidup dalam kemiskinan.
Ketika kembali ke Qom, Imam Musa Sadr tidak lagi berpikiran soal hauzah dan masalah marjaiyah. Kepada seorang dari temannya beliau berkata, "Semua pelajar tinggal di Najaf untuk menjadi mujtahid.
SUmber :http://indonesian.irib.ir
Rasulullah saw bersabda, "Surga berada di bawah telapak kaki ibu."
(Kanz al-‘Ummal hadis: 45439 dan Muntakhab Mizan al-Hikmah hal 614)
Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah saw dan berkata, "Wahai Rasulullah! Kepada siapa aku harus berbuat baik? Rasulullah bersabda, "Kepada ibumu." Pria tadi masih bertanya, "Lalu kepada siapa lagi? Rasulullah menjawab, "Kepada ibumu." Ia masih bertanya, "Lalu kepada siapa aku harus berbuat baik? Rasulullah menjawab, "Kepada ibumu." Pria itu masih belum berputus asa, ia bertanya lagi, "Setelah ibu, kepada siapa aku harus berbuat baik? Nabi kemudian menjawab, "Kepada ayahmu."
(Al-Kafi jilid 2, hal 159 hadis 9 dan Muntakhab Mizan al-Hikman hal 614)
Rasulullah saw bersabda, "Hak terbesar atas seorang wanita adalah suaminya dan hak terbesar seorang pria ada pada ibunya."
(Kanz al-‘Ummal hadis 44771 dan Muntakhab Mizan al-Hikmah hal 254)
Riwayat tentang pribadi Sayyidah Fathimah az-Zahra dan posisi wanita
Riwayat dari Rasulullah:
1. Surga berada di bawah telapak kaki ibu.
2. Kebahagiaan dan kecelakaan setiap orang telah ditetapkan dalam rahim ibu.
3. Seorang ibu mempersiapkan kebahagiaan dunia dan akhirat anaknya dengan melaksanakan perannya sebagai pendidik.
4. Fathimah adalah seorang malaikat yang berujud manusia. Setiap kali saya ingin membaui surga, pasti saya mencium Fathimah as.
5. Setiap kali ingin mencium bau surga, pasti saya mencium Fathimah as.
6. Anak perempuanku diberi nama Fathimah karena Allah menjauhkan dirinya dan pecintanya dari api neraka.
7. Saya bak pohon, Fathimah adalah putiknya, Ali adalah serbuk sarinya dan Hasan dan Husein adalah buahnya. Sementara pecinta Ahlul Bait pada hakikatnya adalah daun surgawi.
8. Setiap orang yang mengenal Fathimah sesuai dengan hakikat Fathimah, berarti ia telah menemukan Lailatul Qadr. Sebab penamaan beliau dengan Fathimah dikarenakan tidak ada makhluk yang bakal sampai pada hakikat makrifatnya.
9. Setiap orang yang menyakitinya, berarti ia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah.
10. Fathimah adalah bagian tubuh, cahaya mata dan buah hatiku.
11. Sesungguhnya Allah telah menciptakan anggota badan Fathimah hingga tulang-tulangnya penuh dengan keimanan dan keyakinan. Itulah mengapa ia begitu tenggelam dalam ketaatan kepada Allah.
12. Jihad seorang wanita adalah menjadi isteri yang baik.
13. Bila engkau sedang menunaikan shalat sunnah lalu ayahmu memanggilmu, maka jangan batalkan shalatmu. Namun bila ibumu yang memanggilmu, segera batalkan shalatmu.
14. Allah lebih pengasih kepada anak-anak perempuan ketimbang laki-laki.
15. Orang yang posisinya paling dekat denganku di Hari Kiamat adalah mereka yang berperilaku baik terhadap isterinya.
16. Seorang mukmin makan dengan lahap karena cinta akan isterinya. Tapi orang munafik, memaksa isterinya makan sesuai dengan keinginannya.
Riwayat Imam Jakfar Shadiq as:
1. Fathimah disebut Zahra dikarenakan selama di mihrab ia senantiasa beribadah dan cahayanya tampak bagi penduduk langit.
2. Selama manusia semakin mencintai wanita, keimanannya akan terus tumbuh.
3. Apa saja yang membuat kita semakin suka, pasti ia akan lebih mencintai wanita.
4. Fathimah adalah cahaya mata dan buah hati Rasulullah saw.
5. Imam Ali as berkata, "Demi Allah! Rumahmu (Fathimah) adalah rumah yang memberikan ketenangan. Setiap kali saya tiba di rumah dan melihat tatapannya itu saja mampu menghilangkan segala kesedihan dan kekalutan dari hatiku.
Doa dan ucapan Fathimah as
1. Ya Allah! Aku memohon Engkau menganugerahkan ikhlas dan ketakutan saat gembira dan marah, begitu juga mengambil sikap tengah saat kaya dan miskin.
2. Ya ilahi! Hinakan jiwaku dan tambahkan sikap teguh dalam jiwaku.
3. Seseorang yang mengirimkan ibadah ikhlasnya kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan maslahat terbaik kepadanya.
4. Menampilkan wajah yang menyenangkan di hadapan saudara mukmin pahalanya adalah surga.
5. Allah menjadikan ketaatan kepada kami Ahlul Bait dapat menciptakan keteraturan bagi umat Islam dan imamah dan kepemimpinan kami Ahul Bait sebagai faktor pemersatu dan melindungi umat Islam dari perpecahan.
6. Setelah Ghadir Khum, Allah tidak akan menerima alasan lagi dari siapapun.
7. Ali adalah imam rabbani, ilahi dan tubuh nurani yang menjadi poros semua arif dan penyembah Allah. Ali adalah anak dari keluarga suci, pengucap kebenaran yang menjadi inti imamah. Ali adalah ayah Hasan dan Husein yang menjadi kembang Rasulullah, dua penghulu pemuda ahli surga.
8. Demikianlah, kebahagiaan sempurna akan diraih seseorang yang mencintai Imam Ali as di masa hidup dan setelah matinya.
9. Imamah dan kepemimpinan kami Ahlul Bait menjadi faktor keselamatan dari perpecahan dan jihad di jalan Allah menjadi sumber kemuliaan dan keabadian Islam.
10. Ya ilahi! Demi hak nabi-nabi yang Engkau pilih. Demi tangisan Hasan dan Husein di masa perpisahan denganku. Aku memohon agar Engkau menghapus dosa pengikutku dan pengikut anak-anakku.
11. Saya tidak menyukai dunia orang-orang yang mencintai dunia.
12. Orang terbaik di antara kalian adalah yang lebih lembut dan penuh kasih dalam berinteraksi dengan masyarakat.
13. Orang paling bernilai adalah yang paling mengasihi isterinya dan pemurah.
14. Saat di mana seorang wanita berada di rumahnya dan melakukan pekerjaan rumah dan mendidik anak-anak, saat itu merupakan kondisi terdekatnya dengan Allah.
15. Ketika aku dibangkitkan di Hari Kiamat, niscaya aku akan memberikan syafaatku kepada para pendosa umat Nabi Muhammad saw.
16. Sesungguhnya Allah adalah hakikat keselamatan. Keselamatan berasal dari-Nya dan keselamatan akan kembali kepada-Nya.
17. Mereka yang membaca surat al-Hadid, al-Waqi'ah dan ar-Rahman akan dipanggil sebagai sebagai ahli surga di langit dan di bumi.
18. Ada tiga hal dari dunia kalian yang aku sukai; membaca al-Quran, menatap wajah Rasulullah saw dan berinfak di jalan Allah.
19. Pemilik kendaraan lebih berhak mengendarai ketimbang kendaraannya.
20. Imamah demi melindungi sistem dan mengubah perpecahan umat Islam menjadi persatuan. Agil asshofie 23:23:00 Admin Tangerang Indonesia
Fatimah as dan Hari Ibu
Bertepatan dengan hari kelahiran Sayyidah Fathimah az-Zahra as 20 Jumadil Tsani tahun kedepalan sebelum Hijrah, Republik Islam Islam memperingatinya sebagai hari ibu. Berikut ini sejumlah hadis yang berbicara tentang pribadi Sayyidah Fathimah az-Zahra dan hari Ibu. Riwayat tentang ibu
Rasulullah saw bersabda, "Surga berada di bawah telapak kaki ibu."
(Kanz al-‘Ummal hadis: 45439 dan Muntakhab Mizan al-Hikmah hal 614)
Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah saw dan berkata, "Wahai Rasulullah! Kepada siapa aku harus berbuat baik? Rasulullah bersabda, "Kepada ibumu." Pria tadi masih bertanya, "Lalu kepada siapa lagi? Rasulullah menjawab, "Kepada ibumu." Ia masih bertanya, "Lalu kepada siapa aku harus berbuat baik? Rasulullah menjawab, "Kepada ibumu." Pria itu masih belum berputus asa, ia bertanya lagi, "Setelah ibu, kepada siapa aku harus berbuat baik? Nabi kemudian menjawab, "Kepada ayahmu."
(Al-Kafi jilid 2, hal 159 hadis 9 dan Muntakhab Mizan al-Hikman hal 614)
Rasulullah saw bersabda, "Hak terbesar atas seorang wanita adalah suaminya dan hak terbesar seorang pria ada pada ibunya."
(Kanz al-‘Ummal hadis 44771 dan Muntakhab Mizan al-Hikmah hal 254)
Riwayat tentang pribadi Sayyidah Fathimah az-Zahra dan posisi wanita
Riwayat dari Rasulullah:
1. Surga berada di bawah telapak kaki ibu.
2. Kebahagiaan dan kecelakaan setiap orang telah ditetapkan dalam rahim ibu.
3. Seorang ibu mempersiapkan kebahagiaan dunia dan akhirat anaknya dengan melaksanakan perannya sebagai pendidik.
4. Fathimah adalah seorang malaikat yang berujud manusia. Setiap kali saya ingin membaui surga, pasti saya mencium Fathimah as.
5. Setiap kali ingin mencium bau surga, pasti saya mencium Fathimah as.
6. Anak perempuanku diberi nama Fathimah karena Allah menjauhkan dirinya dan pecintanya dari api neraka.
7. Saya bak pohon, Fathimah adalah putiknya, Ali adalah serbuk sarinya dan Hasan dan Husein adalah buahnya. Sementara pecinta Ahlul Bait pada hakikatnya adalah daun surgawi.
8. Setiap orang yang mengenal Fathimah sesuai dengan hakikat Fathimah, berarti ia telah menemukan Lailatul Qadr. Sebab penamaan beliau dengan Fathimah dikarenakan tidak ada makhluk yang bakal sampai pada hakikat makrifatnya.
9. Setiap orang yang menyakitinya, berarti ia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah.
10. Fathimah adalah bagian tubuh, cahaya mata dan buah hatiku.
11. Sesungguhnya Allah telah menciptakan anggota badan Fathimah hingga tulang-tulangnya penuh dengan keimanan dan keyakinan. Itulah mengapa ia begitu tenggelam dalam ketaatan kepada Allah.
12. Jihad seorang wanita adalah menjadi isteri yang baik.
13. Bila engkau sedang menunaikan shalat sunnah lalu ayahmu memanggilmu, maka jangan batalkan shalatmu. Namun bila ibumu yang memanggilmu, segera batalkan shalatmu.
14. Allah lebih pengasih kepada anak-anak perempuan ketimbang laki-laki.
15. Orang yang posisinya paling dekat denganku di Hari Kiamat adalah mereka yang berperilaku baik terhadap isterinya.
16. Seorang mukmin makan dengan lahap karena cinta akan isterinya. Tapi orang munafik, memaksa isterinya makan sesuai dengan keinginannya.
Riwayat Imam Jakfar Shadiq as:
1. Fathimah disebut Zahra dikarenakan selama di mihrab ia senantiasa beribadah dan cahayanya tampak bagi penduduk langit.
2. Selama manusia semakin mencintai wanita, keimanannya akan terus tumbuh.
3. Apa saja yang membuat kita semakin suka, pasti ia akan lebih mencintai wanita.
4. Fathimah adalah cahaya mata dan buah hati Rasulullah saw.
5. Imam Ali as berkata, "Demi Allah! Rumahmu (Fathimah) adalah rumah yang memberikan ketenangan. Setiap kali saya tiba di rumah dan melihat tatapannya itu saja mampu menghilangkan segala kesedihan dan kekalutan dari hatiku.
Doa dan ucapan Fathimah as
1. Ya Allah! Aku memohon Engkau menganugerahkan ikhlas dan ketakutan saat gembira dan marah, begitu juga mengambil sikap tengah saat kaya dan miskin.
2. Ya ilahi! Hinakan jiwaku dan tambahkan sikap teguh dalam jiwaku.
3. Seseorang yang mengirimkan ibadah ikhlasnya kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan maslahat terbaik kepadanya.
4. Menampilkan wajah yang menyenangkan di hadapan saudara mukmin pahalanya adalah surga.
5. Allah menjadikan ketaatan kepada kami Ahlul Bait dapat menciptakan keteraturan bagi umat Islam dan imamah dan kepemimpinan kami Ahul Bait sebagai faktor pemersatu dan melindungi umat Islam dari perpecahan.
6. Setelah Ghadir Khum, Allah tidak akan menerima alasan lagi dari siapapun.
7. Ali adalah imam rabbani, ilahi dan tubuh nurani yang menjadi poros semua arif dan penyembah Allah. Ali adalah anak dari keluarga suci, pengucap kebenaran yang menjadi inti imamah. Ali adalah ayah Hasan dan Husein yang menjadi kembang Rasulullah, dua penghulu pemuda ahli surga.
8. Demikianlah, kebahagiaan sempurna akan diraih seseorang yang mencintai Imam Ali as di masa hidup dan setelah matinya.
9. Imamah dan kepemimpinan kami Ahlul Bait menjadi faktor keselamatan dari perpecahan dan jihad di jalan Allah menjadi sumber kemuliaan dan keabadian Islam.
10. Ya ilahi! Demi hak nabi-nabi yang Engkau pilih. Demi tangisan Hasan dan Husein di masa perpisahan denganku. Aku memohon agar Engkau menghapus dosa pengikutku dan pengikut anak-anakku.
11. Saya tidak menyukai dunia orang-orang yang mencintai dunia.
12. Orang terbaik di antara kalian adalah yang lebih lembut dan penuh kasih dalam berinteraksi dengan masyarakat.
13. Orang paling bernilai adalah yang paling mengasihi isterinya dan pemurah.
14. Saat di mana seorang wanita berada di rumahnya dan melakukan pekerjaan rumah dan mendidik anak-anak, saat itu merupakan kondisi terdekatnya dengan Allah.
15. Ketika aku dibangkitkan di Hari Kiamat, niscaya aku akan memberikan syafaatku kepada para pendosa umat Nabi Muhammad saw.
16. Sesungguhnya Allah adalah hakikat keselamatan. Keselamatan berasal dari-Nya dan keselamatan akan kembali kepada-Nya.
17. Mereka yang membaca surat al-Hadid, al-Waqi'ah dan ar-Rahman akan dipanggil sebagai sebagai ahli surga di langit dan di bumi.
18. Ada tiga hal dari dunia kalian yang aku sukai; membaca al-Quran, menatap wajah Rasulullah saw dan berinfak di jalan Allah.
19. Pemilik kendaraan lebih berhak mengendarai ketimbang kendaraannya.
20. Imamah demi melindungi sistem dan mengubah perpecahan umat Islam menjadi persatuan.
Allamah Hussein Fadlullah melewati masa kecil dan pendidikannya di bawah bimbingan ayahnya, Sayyid Abdurrauf Fadlullah, marji Syiah masa itu. Hussein Fadlullah kecil ikut sekolah tradisional masa itu dan mempelajari bagaimana membaca, menulis dan qiraah al-Quran. Namun pendidikan keras yang diterapkan oleh sekolah itu yang dikelola oleh seorang tua membuat Hussein Fadlullah tidak betah belajar di sana. Dengan segera ayahnya mencarikan sebuah pusat pendidikan bernama Muntada an-Nasyr yang menggunakan metode pendidikan baru.
Hussein Fadlullah langsung duduk di kelas tiga dan ketika duduk di kelas empat ia meninggalkan sekolah dan memulai pendidikan agamanya di usia 9 tahun. Berbarengan dengan pendidikan agamanya, Hussein Fadlullah mulai memperhatikan perkembangan yang terjadi di masanya. Hussein Fadlullah mengikuti perkembangan yang ada lewat membaca
majalan-majalah Mesir. Lebanon dan tidak lupa majalah Irak.
Sayyid Muhammad Hussein Fadlullah mempelajari sejumlah pelajaran seperti nahwu, sharf, ma'ani, bayan hingga logika dan ushul fiqih pada ayahnya. Pada masa itu ia tidak berguru pada orang lain. Ketika pelajarannya sampai pada buku Kifayah al-Ushul jilid kedua, Sayyid Hussein Fadlullah akhirnya berguru pada seorang ulama bernama Mojtaba Lankarani, ulama dari Iran.
Setelah menyelesaikan buku Kifayah al-Ushul, Sayyid Hussein Fadlullah mengikuti kuliah tingkat tinggi (bahts kharij) pada sejumlah marji antara lain, Sayyid Abul Qasin Khu'i, Sayyid Muhsin al-Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi dan Syeikh Hussein al-Hilli. Di samping mempelajari mata-mata kuliah fiqih dan ushul fiqih, Hussein Fadlullah juga mempelajari sebagian dari buku al-Asfar al-Arba'ah, buku filsafat yang lebih dikenal dengan al-Hikmah al-Muta'aliyah karya Mulla Shadr pada gurunya Badkubeh. Sayyid Hussein Fadlullah juga sempat belajar pada Sayyid Muhammad Baqir Shadr selama lima tahun. Gurunya Sayyid Khu'i menasihatinya agar menyeriusi pelajarannya bersama Syahid Shadr.
Pada tahun 1952, di usia 17 tahun untuk pertama kalinya Hussein Fadlullah menuju Lebanon untuk menengok keluarganya di sana. Perjalanannya bersamaan dengan peringatah hari ke-40 meninggalnya Sayyid Muhsin Amin al-‘Amili. Hussein Fadlullah kemudian membacakan kasidah memuji ketokohan dan kepribadian Sayyid Muhsin al-‘Amili.
Dalam kasidah yang dibacakannya, Sayyid Hussein Fadlullah banyak menyinggung masalah politik, termasuk persatuan dan kebangkitan Islam serta mencela imigrasi para pemuda dan imperialisme Perancis.
Surat-surat kabar Lebanon waktu itu menilai kasidah yang diucapkan Sayyid Hussein Fadlullah sangat provokatif.
Pada tahun 1966, sejumlah pendiri organisasi keagamaan Usrah al-Taakkhi yang terletak di pinggiran timur kota Beirut mengajak Sayyid Hussein Fadlullah untuk tinggal di sana. Hussein Fadlullah menerima tawaran itu dan pada tahun itu juga beliau memastikan untuk tinggal selamanya di sana.
Allamah Sayyid Hussein Fadlullah sejak masa mudanya tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu agama tapi juga mengkaji masalah-masalah yang berada di luar itu. Dengan mendalami sastra membaca majalah-majalah seperti Al-Katib Taha Hussein, beliau secara perlahan mengasah kemampuan menciptakan dan melantunkan syair. Beliau juga menulis tiga buku syair.
Pada tahun 2001, Allamah Fadlullah menerbitkan Jamatul Ulama Najaf, sebuah majalah Kebudayaan-Islam, bersama-sama dengan Sayyid Muhammad Baqir Shadr dan Syeikh Muhammad Mahdi Shamshuddin. Di tahun kedua, kolom utama majalah tersebut bernama Kalimatuna (Ucapan kami). Sebelumnya, artikel utama itu bernama Risalatuna (Risalah kami) dan ditulis oleh Sayyid Muhammad Baqir Shadr.
Allamah Fadlullah melanjutkan aktivitas penulisan artikel dan buku hingga enam tahun. Di Irak beliau berperan urgen dalam pembentukan gerakan Syiah bersama Sayyid Muhammad Baqir Sadr. Hasil dari perjuangan kedua tokoh tersebut, akhirnya lahirlah gerakan Syiah Irak bernama Hizbud Dakwah Islamiyah.
Sekembalinya ke Lebanon pada tahun 1966, beliau mulai beraktivitas secara meluas di bidang ilmiah, budaya, dan sosial, yang hingga kini meski telah 45 tahun berlalu, dampak dan pengaruhnya masih dapat disaksikan.
Dengan mengadakan berbagai pengajian, pelajaran tafsir al-Quran, agama, dan akhlak, beliau mampu menciptakan perubahan hingga ke beberapa generasi di Lebanon. Bahkan di satu kesempatan, beliau pernah mengatakan, "Saya bangga karena ikut menggembleng sebagian besar pejuang dan pegiat agama."
Pembentukan sebuah pondok pesantren bernama al-Ma'had al-Shar'i al-Islami dengan tujuan mendidik para pelajar agama, merupakan di antara upaya sosial-budaya beliau. Selain al-Ma'had al-Shar'i yang terletak di Beirut, Allamah Fadlullah juga mendirikan hauzah akhwat di Beirut, Tyer dan al-Murtadha di Damaskus yang disebut Sayyidah Zainab.
Sayyid Hussein Fadlullah hingga kini melahirkan lebih dari 70 karya yang bila dikumpulkan menjadi lebih dari seratus jilid. Sebagian buku-buku beliau hasil transkrim pidato dan sebagian lainnya merupakan catatan-catatan pelajaran fiqih dan ushul fiqih tingkat tinggi yang ditulis oleh murid-muridnya.
Aktivitas Sosial
Selain kegiatan ilmiah, budaya dan politiknya di Lebanon Suriah, Sayyid Hussein Fadlullah juga punya aktivitas sosial yang cukup luas. Beliau mengayomi anak-anak yatim, syuhada, cacat dan fakir miskin. Beliau mendirikan yayasan sosil bernama Komunitas al-Mirats al-Khairiyah sekaligus menjadi pemimpinnya. Dengan bantuan para donator dari negara-negara Arab Teluk Persia dan Lebanon, Allamah Sayyid Hussein Fadlullah mendirikan sejumlah pusat dan yayasan sosial yang modern untuk mendidik anak-anak yatim, khususnya anak-anak para syahid dan anak-anak miskin. Allamah Fadlullah mendirikan rumah sakit, poliklinik dan masjid-masjid.
Di pusat-pusat yayasan sosial ini, Ayatullah Fadlullah memberikan tempat tinggal bagi mereka yang membutuhkan dan mereka melanjutkan pendidikannya di kawasan ini.(IRIB/SL/MZ)
sumber copy paste dari alamat web: http://indonesian.irib.ir Agil asshofie 22:08:00 Admin Tangerang Indonesia
Allamah Hussein Fadlullah melewati masa kecil dan pendidikannya di bawah bimbingan ayahnya, Sayyid Abdurrauf Fadlullah, marji Syiah masa itu. Hussein Fadlullah kecil ikut sekolah tradisional masa itu dan mempelajari bagaimana membaca, menulis dan qiraah al-Quran. Namun pendidikan keras yang diterapkan oleh sekolah itu yang dikelola oleh seorang tua membuat Hussein Fadlullah tidak betah belajar di sana. Dengan segera ayahnya mencarikan sebuah pusat pendidikan bernama Muntada an-Nasyr yang menggunakan metode pendidikan baru.
Hussein Fadlullah langsung duduk di kelas tiga dan ketika duduk di kelas empat ia meninggalkan sekolah dan memulai pendidikan agamanya di usia 9 tahun. Berbarengan dengan pendidikan agamanya, Hussein Fadlullah mulai memperhatikan perkembangan yang terjadi di masanya. Hussein Fadlullah mengikuti perkembangan yang ada lewat membaca
majalan-majalah Mesir. Lebanon dan tidak lupa majalah Irak.
Sayyid Muhammad Hussein Fadlullah mempelajari sejumlah pelajaran seperti nahwu, sharf, ma'ani, bayan hingga logika dan ushul fiqih pada ayahnya. Pada masa itu ia tidak berguru pada orang lain. Ketika pelajarannya sampai pada buku Kifayah al-Ushul jilid kedua, Sayyid Hussein Fadlullah akhirnya berguru pada seorang ulama bernama Mojtaba Lankarani, ulama dari Iran.
Setelah menyelesaikan buku Kifayah al-Ushul, Sayyid Hussein Fadlullah mengikuti kuliah tingkat tinggi (bahts kharij) pada sejumlah marji antara lain, Sayyid Abul Qasin Khu'i, Sayyid Muhsin al-Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi dan Syeikh Hussein al-Hilli. Di samping mempelajari mata-mata kuliah fiqih dan ushul fiqih, Hussein Fadlullah juga mempelajari sebagian dari buku al-Asfar al-Arba'ah, buku filsafat yang lebih dikenal dengan al-Hikmah al-Muta'aliyah karya Mulla Shadr pada gurunya Badkubeh. Sayyid Hussein Fadlullah juga sempat belajar pada Sayyid Muhammad Baqir Shadr selama lima tahun. Gurunya Sayyid Khu'i menasihatinya agar menyeriusi pelajarannya bersama Syahid Shadr.
Pada tahun 1952, di usia 17 tahun untuk pertama kalinya Hussein Fadlullah menuju Lebanon untuk menengok keluarganya di sana. Perjalanannya bersamaan dengan peringatah hari ke-40 meninggalnya Sayyid Muhsin Amin al-‘Amili. Hussein Fadlullah kemudian membacakan kasidah memuji ketokohan dan kepribadian Sayyid Muhsin al-‘Amili.
Dalam kasidah yang dibacakannya, Sayyid Hussein Fadlullah banyak menyinggung masalah politik, termasuk persatuan dan kebangkitan Islam serta mencela imigrasi para pemuda dan imperialisme Perancis.
Surat-surat kabar Lebanon waktu itu menilai kasidah yang diucapkan Sayyid Hussein Fadlullah sangat provokatif.
Pada tahun 1966, sejumlah pendiri organisasi keagamaan Usrah al-Taakkhi yang terletak di pinggiran timur kota Beirut mengajak Sayyid Hussein Fadlullah untuk tinggal di sana. Hussein Fadlullah menerima tawaran itu dan pada tahun itu juga beliau memastikan untuk tinggal selamanya di sana.
Allamah Sayyid Hussein Fadlullah sejak masa mudanya tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu agama tapi juga mengkaji masalah-masalah yang berada di luar itu. Dengan mendalami sastra membaca majalah-majalah seperti Al-Katib Taha Hussein, beliau secara perlahan mengasah kemampuan menciptakan dan melantunkan syair. Beliau juga menulis tiga buku syair.
Pada tahun 2001, Allamah Fadlullah menerbitkan Jamatul Ulama Najaf, sebuah majalah Kebudayaan-Islam, bersama-sama dengan Sayyid Muhammad Baqir Shadr dan Syeikh Muhammad Mahdi Shamshuddin. Di tahun kedua, kolom utama majalah tersebut bernama Kalimatuna (Ucapan kami). Sebelumnya, artikel utama itu bernama Risalatuna (Risalah kami) dan ditulis oleh Sayyid Muhammad Baqir Shadr.
Allamah Fadlullah melanjutkan aktivitas penulisan artikel dan buku hingga enam tahun. Di Irak beliau berperan urgen dalam pembentukan gerakan Syiah bersama Sayyid Muhammad Baqir Sadr. Hasil dari perjuangan kedua tokoh tersebut, akhirnya lahirlah gerakan Syiah Irak bernama Hizbud Dakwah Islamiyah.
Sekembalinya ke Lebanon pada tahun 1966, beliau mulai beraktivitas secara meluas di bidang ilmiah, budaya, dan sosial, yang hingga kini meski telah 45 tahun berlalu, dampak dan pengaruhnya masih dapat disaksikan.
Dengan mengadakan berbagai pengajian, pelajaran tafsir al-Quran, agama, dan akhlak, beliau mampu menciptakan perubahan hingga ke beberapa generasi di Lebanon. Bahkan di satu kesempatan, beliau pernah mengatakan, "Saya bangga karena ikut menggembleng sebagian besar pejuang dan pegiat agama."
Pembentukan sebuah pondok pesantren bernama al-Ma'had al-Shar'i al-Islami dengan tujuan mendidik para pelajar agama, merupakan di antara upaya sosial-budaya beliau. Selain al-Ma'had al-Shar'i yang terletak di Beirut, Allamah Fadlullah juga mendirikan hauzah akhwat di Beirut, Tyer dan al-Murtadha di Damaskus yang disebut Sayyidah Zainab.
Sayyid Hussein Fadlullah hingga kini melahirkan lebih dari 70 karya yang bila dikumpulkan menjadi lebih dari seratus jilid. Sebagian buku-buku beliau hasil transkrim pidato dan sebagian lainnya merupakan catatan-catatan pelajaran fiqih dan ushul fiqih tingkat tinggi yang ditulis oleh murid-muridnya.
Aktivitas Sosial
Selain kegiatan ilmiah, budaya dan politiknya di Lebanon Suriah, Sayyid Hussein Fadlullah juga punya aktivitas sosial yang cukup luas. Beliau mengayomi anak-anak yatim, syuhada, cacat dan fakir miskin. Beliau mendirikan yayasan sosil bernama Komunitas al-Mirats al-Khairiyah sekaligus menjadi pemimpinnya. Dengan bantuan para donator dari negara-negara Arab Teluk Persia dan Lebanon, Allamah Sayyid Hussein Fadlullah mendirikan sejumlah pusat dan yayasan sosial yang modern untuk mendidik anak-anak yatim, khususnya anak-anak para syahid dan anak-anak miskin. Allamah Fadlullah mendirikan rumah sakit, poliklinik dan masjid-masjid.
Di pusat-pusat yayasan sosial ini, Ayatullah Fadlullah memberikan tempat tinggal bagi mereka yang membutuhkan dan mereka melanjutkan pendidikannya di kawasan ini.(IRIB/SL/MZ)
sumber copy paste dari alamat web: http://indonesian.irib.ir
