Diberdayakan oleh Blogger.

Buku Tamu

Followers

Jumat, 10 Juni 2011

Sejarah Ali bin Abi Thalib

     Dalam sejarah islam, masalah imamah(kepemimpinan) telah memicu konflik yang berkepanjangan. Tidak ada faktor pertikaian dikalangan umat islam yang lebih besar dari pada masalah imamah. Madzhab syiah imamiyah dan ahlusunnah wal jamaah berbeda pandangan dalam deifinisi imamah. Ahlusunnah sendiri menganggap imam adalah identik dengan khalifah dan sedikit berpolitik. Sedangkan madzhab syiah imamiyah sendiri menganggap imam adalah pemimpin yang ditunjuk oleh rasul yaitu ahlulbayt. Bertolak dari perbedaan pemahaman mengenai pengertian imamah setelah meninggalnya Nabi Saw antara syiah dan ahlusunnah, alkitab perjanjian lama dan perjanjian baru sendiri sangat akrab dengan terminology imamah.

Dengan singkat disini saya akan menegaskan mengenai kepemimpina Ali bin Abi thalib.

1.Kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib

     Pasca wafatnya rasul yang paling mulia, beliau telah menyerahkan persoalan kepimimpinan kepada seseorang yang memiliki kepribadian mulia yang mengetahui semua persoalan tentang risalah yang dilengkapi dengan kecerdasan dan pengetahuan agama yang luas. Orang itu harus memegang kendali atas semua urusan untuk mengurus dengan penuh perhatian dan penuh kasih sayang tugas membimbing dan mendidik manusia. Benar, bahwa pribadi yang kehidupannya tidak pernah dikotori oleh sifat syirik atau dosa, yang seluruh hidupnya dipersembahkan untuk menyebarkan ajaran-ajaran agama dan mendakwahkan islam. Ali bin abi thalib adalah orang yang pantas untuk menjadi pemimpin setelah wafatnya rasulullah Saw. Penunjukan rasulullah atas ali lah yang layak menjadi pemimpin setelahnya telh ditegaskan juga oleh allah SWT. Dalam ayat alqur'an :

Wahai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari tuhanmu. Dan jika kamu kerjakan(apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-NYA. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.(QS. Almaidah : 67).

     Memperhatikan secara seksama isi ayat diatas, menunjukkan kepada kita nilai kebenaran, yang menyatakan pesan tuhan tersebut. Ayat alqur'an tersebut telah di turunkan di ghadir khum. Yaitu dimana nabi menunjuk Ali adalah pemimpin setelah beliau. Beliau bersabda : wahai manusia, jangan kalian lupakan dua warisan ini, selama kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat yaitu kitabullah dan keluargaku.[1]

2. Mengapa Harus Ali ?

     Imam ali adalah anak dari pasangan haidarah bin abdul muthalib bin hasyim bin abdi manaf dengan fatimah binti as'ad bin hasyim bin abdi manaf. Ayah imam ali adalah paman rasulullah Saw. Sejak ali masih berumur belia. Beliau telah menampakkan kecerdasan, kedermawan, juga keberanian. Imam ali adalah putra paling bungsu di antara 3 bersaudara. Pertama, ja'far, thalib dan kemudian imam ali. Pada suatu hari, rasulullah mengangkat imam ali menjadi anaknya. Rasulullah amat menyayangi imam ali. Sejak diangkat sebagai anak oleh rasul, imam ali mendapatkan pendidikan dari rasulullah langsung untuk selalu menjunjung kebenaran.

     Membahas kemuliaan imam ali, berarti siap untuk menjawab pertanyaan dari orang yang sedikit tidak percaya dengan ke –imamah-an imam ali. Sebagian orang bertanya, mengapa imam ali tidak tampil untuk mempermasalahkan pengukuhannya di ghadir khum sebagai imam? Jawabannya ialah, bahwa imam ali bin abi thalib sungguh telah menyatakan pengukuhannya di ghadir khum dalam banyak kesempatan dan imam ali telah mengingatkan kepada sahabat tentang apa yang telah terjadi. Mereka pun menyatakan kebenaran ucapan imam ali seraya berkata : " tak seorang pun menyangkal pernyataan kebenaran itu."(bahwa imam ali lah yang berhak memimpin setelah rasulullah).

3. Ali Menurut Abu Bakar

     Pengakuan abubakar bahwa peristiwa al-ghadir adalah pengukuhan kepemimpinan ali oleh nabi Muhammad saw. Pertama, sebagian besar penghafal hadist dan sejarahwan sunni meriwayatkan hadis ghadir khum di dalam kitab-kitb dan makalah-makalah mereka, bahkan mereka mengarang buku khusus membahas al-ghadir. Distu abubakar, usman dan umar berada dibarisan pertama sebagai perawi hadis ghadir dengan redaksional, " sesiapa yang aku(rasul) sebagai pemimpinnya, maka ali adalah pemimpinnya, "

Perawi hadis al ghadir yang merujuk kepada riwayat abubakar :

1.ibnu uqdah, 333 H : beliau meriwayatkan bahwa sesungguhnya periwayat hadis ghadir adalah abubakar bin abu quhafah taimi.

2.Qadhi Abubakar ja'bi, 356 H : Meriwayatkan pula bahwa hadis al-ghadir adalah riwayat dari abubakar.[2]

3. Ibadah Ali Bin Abi Thalib

     Imam Ali AS adalah ahli ibadah yang paling tinggi derajatnya di zamannya, baik dari segi kuantitas ataupun kualitas ibadah, yakni keikhlasan, perhatian atau kosentrasi hatinya, dan penyaksian terhadap Allah swt. Imam Ali bin Abi Thalib AS berkata: "Sekelompok manusia beribadah dengan harapan mendapatkan pahala dan ganjaran. Inilah ibadah para pedagang. Sekelompok lainnnya beribadah karena takut kepada siksa. Inilah ibadah para budak. Sekelompok orang beribadah untuk bersyukur kepada Allah. Inilah ibadah orang-orang yang bebas."Imam Ali AS juga berkata : "Ya Allah! Aku tidak menyembah-Mu karena takut terhadap siksa dan rakus terhadap pahala, melainkan karena melihat Engkau pantas disembah.

     Seseorang datang kepada Imam Ali bin Abi Thalib AS dan berkata : "Apakah engkau melihat Allah sehingga engkau menyembah-Nya?" Beliau berkata, "Celaka Engkau! Aku tidak akan menyembah Tuhan yang aku tidak lihat?" Orang itu bertanya, "Bagaimana engkau melihat-Nya?" Imam menjawab, "Mata kasar tidak dapat melihat Allah, melainkan mata hati yang melihat-Nya dengan dasar hakikat iman. Qusyairi menulis : "Tatkala waktu shalat telah tiba, warna wajah Imam Ali bin Abi Thalib berubah dan tubuhnya bergetar. Imam ditanya, "Mengapa keadaan Anda berubah seperti ini?" Beliau berkata, "Tiba saat menunaikan amanah yang diberikan Allah terhadap langit, bumi, dan gunung dan semuanya menolak. Namun, manusia yang lemah menerimanya. Aku takut, apakah dapat menunaikan amanah ini atau tidak?

     Imam Ali Zainal Abidin AS membaca sebuah buku yang mencatat ibadah Imam Ali lantas beliau menaruh buku itu di atas meja dan berkata : "Siapakah yang mampu beribadah seperti Ali? Ibn abbas mengatakan: "Dua unta dihadiahkan kepada Rasulullah saw. Lalu Rasulullah berkata kepada para sahabat, "Aku akan menghadiahkan salah satu unta ini kepada orang yang melaksanakan shalat dua rakaat dengan konsentrasi hati yang penuh sehingga selama dua rakaat itu, ia sama sekali tidak memikirkan urusan duniawi." Dalam hal ini, tiada seorang pun yang sanggup kecuali Ali. Kemudian Rasulullah menghadiahkan kedua unta itu kepada Ali.

     Habbah Arani berkata : "Suatu malam, aku dan Nauf tidur di halaman Darul Imarah. Di sini, kami menyaksikan Imam Ali AS seperti manusia yang dalam keadaan gundah dan gelisah. Ia meletakkan tangannya di dinding seraya membaca ayat, Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan seterusnya dengan diulang-ulangi dan berjalan seperti manusia gila. Imam berkata kepadaku, "Wahai Habbah! Apakah kamu tidur atau terjaga?" Aku menjawab, "Aku terjaga. Kalau Anda berbuat demikian, lalu apa yang harus kami lakukan?" Imam Ali mulai menangis dan berkata : " Wahai Habbah! Allah lebih dekat kepada kita daripada urat leher. Tiada sesuatu pun yang membatasi kita dari Allah."

     Kemudian, beliau berkata kepada Nauf : "Barangsiapa yang meneteskan air mata lantaran takut kepada Allah maka dosa-dosanya akan diampuni. Wahai Nauf! Barangsiapa yang menangis karena takut kepada Allah dan cinta serta kebenciannya hanyalah karena Allah maka tiada seorang pun yang dapat mencapai kedudukannya. Wahai Nauf! Barangsiapa yang kecintaannya di jalan Allah maka tidak akan melebihkan kecintaan yang lain di atas kecintaannya itu dan barangsiapa yang kebenciannya di jalan Allah maka kebenciannya tidak berada di jalan kepentingan pribadi. Maka dengan cara inilah, hakikat keimanannya menjadi sempurna."

     Kemudian beliau menasehati kedua orang itu dan di bagian akhir, beliau berkata: "Takutlah kepada Allah!" Kemudian ia bergerak dan berkata, "Ya Allah! Aku tidak tahu apakah Engkau berpaling dariku atau Engkau menyayangiku? Andai saja aku tahu, dalam kondisi lalai yang panjang dan sedikitnya syukur ini, bagaimana keadaannku!"

Habbah berkata: "Demi Tuhan! Beliau dalam kedaan seperti itu hingga terbit fajar."

     Malam hari ketika berdiri di mihrab ibadah, Imam Ali memegang janggutnya dan seperti orang yang tersengat ular, ia berputar dan menangis tersedu-sedu seraya berkata, "Wahai Dunia! Menjauhlah dariku! Apakah engkau datang kepadaku? Bukan saatnya untukmu! Lihat! Tipulah selain aku! Aku tidak memerlukan kamu! Aku menceraikanmu tiga kali! Kehidupanmu pendek dan nilaimu sedikit sementara harapanku terhadapmu sedikit."

Muawiyah kepada Dhirar bin Dhamrah berkata: "Sifatilah Ali untukku!" Dhirar berkata, "Aku menyaksikan Ali di beberapa tempat dalam kegelapan berkata, "Oh, betapa sedikitnya bekal, jauhnya perjalanan, besarnya tujuan, dan sulitnya kedudukan
.

     Makrifat Imam Ali sedemikian kaya sehingga menyinari seluruh nuansa hidupnya. Namun jika kita melihat makrifat Imam Ali atau kesufian beliau, kita tidak akan mendapati kesufian itu bermakna pengucilan diri dari sosial. Beliau adalah orang yang senantiasa berhubungan dengan masyarakat, mengelola urusan pemerintahan dan politik, namun dimensi kesufian beliau tetap tampak dan terjaga. Kesufian dan zuhud Imam Ali berakar pada pandangannya yang begitu dalam terhadap soal kehidupan dan filsafat alam semesta. Beliau pernah berkata: "Dunia adalah tempat perjalanan, bukan tempat tinggal." Imam Ali juga memandang manusia di dunia ini terdiri dari dua macam; orang yang menjual dirinya demi hawa nafsunya dan orang yang membeli nafsunya untuk taat kepada Allah dan menyelamatkan dirinya.

     Zuhud dalam Islam tak lain ialah menerapkan prinsip-prinsip khusus dalam hidup dengan cara memprioritaskan nilai dan akhlak ketimbang tamak kepada benda-benda materi. Sudah barang tentu Imam Ali adalah orang yang sangat zuhud. Zuhud adalah perilaku yang tak bisa diceraikan dari kehidupan Imam Ali, khususnya ketika beliau duduk sebagai pemimpin umat. Namun Kezuhudan Imam Ali bukan berarti uzlah atau mengasingkan diri dari masyarakat atau hidup layaknya seorang pertapa. Malah kezuhudan bagi beliau justru inheren dengan melaksanakan tugas sosial demi cita-cita yang besar.

     Ayatullah Murtadza Mutahhari, pemikir besar Iran tentang zuhud Imam Ali berkata: "Dalam pribadi Imam Ali, antara zuhud dan tanggungjawab sosial bertemu. Imam Ali adalah seorang yang zuhud sekaligus orang yang paling peka terhadap tanggungjawab sosial. Beliau termasuk orang yang paling sukar tidur ketika menyaksikan ketidak adilan atau mendengar rintihan orang-orang kecil. Beliau tidak pernah mengenyangkan perutnya selama ada orang-orang yang lapar di sekitarnya."

     George Jordac penulis Nasrani asal Libanon, dalam hal ini menuliskan: "Imam Ali jujur dalam zuhudnya. Dalam semua perbuatannya dan apa yang keluar dari hati dan lidahnya tak lain adalah kejujuran. Beliau zuhud dalam menghadapi kenikmatan dunia, beliau tidak mengharap mendapat pemberian dalam memerintah. Beliau merasa cukup hidup dengan putra-putrinya dalam rumah kecil dan memakan roti yang dibuat dari tangan istrinya sendiri. Dan sementara beliau menjabat sebagai Khalifah, beliau tidak memiliki pakaian untuk menahan hawa dingin. hal ini merupakan derajat yang tertinggi dari kebersihan jiwa."

     Imam Ali adalah orang yang paling muak terhadap kehidupan yang dikelas-kelas oleh faktor materi dan gaya hidup yang glamor. Diriwayatkan bahwa suatu saat, Imam Ali mendengar salah satu bawahannya, yaitu Usman bin Hanif yang merupakan gubernur wilayah Basrah (IRAQ)diundang dalam sebuah pesta. Dalam pesta ini, tamu yang diundang adalah dari kalangan elit. Begitu mendengar berita ini, Imam Ali langsung menegur Usman bin Hanif. Beliau berkata: "Aku dengar engkau telah menghadiri sebuah pesta yang hanya mengundang orang-orang mampu dan tidak ada orang fakir. Disitu engkau menikmati aneka ragam jamuan. Jika engkau ingin bekerjasama denganku, maka hindarilah perbuatan seperti itu, jika tidak aku persilahkan engkau mengundurkan diri."

     Hak asasi setiap individu masyarakat manusia ialah masing-masing dapat menikmati kehidupan secara manusiawi. Adapun yang dapat kita saksikan sekarang adanya sekelompok orang hidup dengan serba kenikmatan dan kemegahan, sementara sekelompok lain menderita kemiskinan, maka ini merupakan salah satu tanda bahwa orang-orang kaya tidak mau melakukan kewajiban mereka. Menurut Imam Ali tidak akan ada orang kelaparan bila hak yang lemah diindahkan oleh orang kaya. Namun demikian, diantara penyebab kesenjangan sosial juga bisa kembali kepada orang fakir yang tidak mau melaksanakan tugasnya untuk mendapat kehidupan yang layak. Dalam hal ini, Imam Ali berkata: "Apakah pantas bila kamu lebih lemah dari semut, padahal makhluk kecil ini dengan usaha penuh telah membawa makanannya ke dalam sarangnya dan setiap hari ia sibuk dengan kegiatan."

    Tak terlukiskan betapa besar kasih sayang beliau terhadap fakir miskin. Perhatian beliau amat besar kepada mereka yang memerlukan pertolongan. Diriwayatkan pada suatu hari beliau berada di masjid. Ketika sedang khusyuk menunaikan solat, tiba-tiba beliau dihampiri oleh seorang pengemis. Kekhusyukan beliau ternyata tidak membuatnya lupa akan apa dan siapa saja. Ketika sedang ruku', beliau menjulurkan tangan untuk menyerahkan cincin yang melingkar dijarinya. Maka pengemis itu segera mencopot cincin itu kemudian memenuhi keperluannya dengan cincin itu.

     Allah SWT kemudian mengabadikan kisah ini dalam Al-Quran. Sebagaimana pendapat banyak ahli tafsir, Surah Al-Maidah ayat 55 diturunkan berkenaan dengan kejadian ini. Ayat ini menyatakan: "Sesungguhnya pemimpin kalian hanyalah Allah dan rasulnya serta orang-orang Mukmin yang mendirikan solat, dan memberikan zakat ketika dalam keadaan ruku'."

     Pandangan-pandangan Imam Ali yang dicerap dari Islam mengenai hak-hak sesama manusia dikenal sebagai sangat dalam. Keputusan-keputusan Imam Ali dalam mengadili kasus-kasus yang ada, dipandang sebagai bintang dalam sejarah, sampai-sampai para hakim saat itu berkali-kali menyatakan dirinya akan celaka jika Imam Ali tidak ada.

     Sebagai contoh, pada masa kekhalifahan sebelum beliau, pernah seorang wanita terbukti berbuat zina dan hendak dihukum rajam. Imam Ali tiba-tiba meminta agar hukuman itu ditangguhkan. Orang-orang disekitarnya keheranan. Namun Imam Ali segera memberi alasan. Kata Imam Ali wanita tersebut hamil, dan anak yang dikandungnya tidak semestinya menanggung beban dosa ibunya. Anak itu punya hak untuk hidup. Karena itu, hukuman harus ditangguhkan hingga wanita itu melahirkan anaknya yang tidak bersalah.

     Dalam riwayat lain, juga dikisahkan bahwa suatu hari Imam Ali datang kepada seorang Qadhi untuk menyelesaikan suatu urusan dengan orang lain. Qadhi atau hakim ini lebih menghormati Imam Ali. Melihat sikap ini, Imam Ali kecewa dan menegur sang Qadhi. Maksud Imam Ali ialah, dalam sebuah pemerintahan yang berlandaskan jiwa pengabdian kepada Allah, pemerintah dan rakyat sejajar di depan hukum.

     Pemerintahan dalam konsep Imam Ali yang diserap dari ajaran Islam bukanlah menjauhi rakyat dan tidak memperhatikan kondisi umum serta keperluan setiap orang, melainkan pemerintahan adalah sarana untuk mendekatkan pemimpin dengan rakyat. Pemerintahan adalah media untuk mencurahkan kasih sayang terhadap seluruh lapisan masyarakat. Imam Ali berkata: "Hati rakyat adalah gudang yang menyimpan gerak-gerik penguasa. Jika di gudang ini tersimpan keadilan, maka keadilanlah yang akan terpantul darinya. Jika kedzaliman yang tersimpan, maka kedzalimanlah yang akan terpantul darinya."

     Jika dalam sebuah pemerintahan, kasih sayang dan kecintaan menjadi darah daging seluruh lapisan masyarakat, maka keharmonisan akan mengikat rakyat dan pemimpin. Keharmonisan ini telah dipersembahkan oleh Imam Ali di masa kekhalifahannya. Dalam wilayah pemerintahan beliau, jangankan seorang Muslim, minoritas pemeluk agama-agama lainpun bisa hidup dengan tenteram di sisi umat Muslim. Kepada gubernur dan semua bawahannya, Imam Ali selalu berpesan agar memperhatikan hak seluruh lapisan masyarakat.

     Imam Ali pernah berkata: "Demi Allah, aku bersumpah, andaikan aku dipaksa tidur di atas duri-duri padang pasir, atau aku dibelenggu kemudian dipendam hidup-hidup dalam tanah, sungguh ini semua lebih baik daripada aku berjumpa Allah dan Rasulnya di hari Kiamat sementara aku pernah berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah."

     Suatu hari Imam Ali AS berpidato di tengah sekelompok masyarakat. Orang-orang yang mengerti akan makna dari pidato beliau dengan cermat mencerna ucapan-ucapan beliau. Imam Ali AS berbicara mengenai Akhlak. Di pertengahan Khutbah itu, beliau berkata: "Waspadalah, jangan kalian sambut gunjingan terhadap seseorang. Banyak sekali ucapan yang batil, tapi ia akan musnah, yang tinggal hanyalah amalan manusia karena Allah menyaksikan dan mendengar. Ketahuilah bahwa jarak antara hak dan bathil tidak lebih dari lebar empat jari."Saat itu tiba-tiba seseorang bertanya: "Bagaimana bisa jarak antara hak dan bathil tidak lebih dari empat jari?

     Untuk menjawab pertanyaan ini Imam Ali menunjukkan empat jarinya kemudian beliau letakkan di tempat antara mata dan telinga, kemudian beliau mengucapkan: "Kebathilan adalah ucapan yang aku dengar dan hak adalah ucapan yang aku saksikan."Maksud Imam Ali dari ucapan ini adalah jangan sekali-kali kita terima apa yang kita dengar sebelum kita yakin akan kebenarannya. Tersebut satu kisah, ketika kota Kufah waktu itu diselimuti kelam, manakala matahari sudah lama tenggelam. Rumah-rumah sudah tertutup rapat dan penghuninya pun hanyut dalam tidurnya. Pertengahan malam sudah berlalu. Di tengah kesunyian itu tampak bayang-bayang seseorang bergerak perlahan di halaman darul Imarah Kufah. Dua orang yang tidur di halaman itu kemudian terbangun. Dua orang itu mengenal bayangan itu. Bayangan itu adalah bayang-bayang Imam Ali A.S. Tubuhnya gemetar. Dari mulutnya terdengar sayup-sayup bunyi beberapa ayat-ayat terakhir surah Ali Imran. Arti ayat-ayat itu adalah sebagai berikut:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah, baik dalam keadan berdiri, atau duduk, atau berbaring, dan mereka itu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka."

     Imam Ali A.S mengulang-ulang bacaan ayat itu, dan terlihat tubuhnya semakin bergetar karena tangisannya. Menyaksikan pemandangan seperti ini, dua orang yang tak lain adalah sahabat Imam Ali itu tiba-tiba turut menitikkan air mata. Kemudian Imam Ali menghampiri mereka."Wahai Amirul Mukminin!" kata salah seorang dari mereka. "Engkau terguncang sedemikian rupa di depan keagungan Ilahi, lantas bagaimana dengan kami?" Imam Ali melemparkan pandangannya ke tanah. Sejenak kemudian beliau berkata: "Suatu hari nanti, kita semua akan dihadapkan kepada Allah, dan tak sedikitpun amalan-amalan kita tersembunyi baginya. Jika sekarang engkau mengingat Allah, niscaya kelak pandanganmu akan terang benderang. Kesempurnaan iman terletak pada kecintaan kepada Allah. Jika engkau mencintai sesuatu, pasti ingatanmu akan tertambat padanya, dan engkau tidak akan mencintai yang lain melebihi kecintaanmu kepadanya." Setelah itu perlahan-lahan Imam Ali meninggalkan dua orang sahabatnya kemudian menghanyutkan dirinya dalam rintihan doa. Suatu hari, sekelompok masyarakat tampak berkumpul disebuah jalan utama kota Anbar. Wajah mereka tampak tengah menanti-nanti tibanya seseorang dari arah jauh. Para pemimpin kota itu berada di barisan terdepan di atas kuda. Tak lama kemudian tampaklah bayangan dari jauh. Bayangan itu semakin mendekat dan masyarakatpun semakin tidak sabar untuk menatap wajah pemimpin besarnya, Imam Ali A.S. Ternyata bayangan seseorang yang mengendarai kuda itu ialah Imam Ali A.S. Beliau tiba di gerbang kota. Untuk menyambut beliau, para pemimpin kota itupun segera turun dari hewan yang dikendarainya kemudian menghampiri Imam Ali dan melakukan sembah takzim di atas tanah. Melihat itu, Imam Ali tampak kecewa. "Apa maksud dari yang kalian lakukan ini?" tanya Imam Ali AS. "Ini adalah tradisi resmi kami untuk menyambut dan menghormati seorang tokoh besar", jawab mereka. Namun dengan nada kecewa Imam Ali AS. berkata: "Demi Allah, apa yang kalian lakukan itu sama sekali tidak akan menguntungkan kalian. Apa yang kalian lakukan itu sia-sia, malah mendatangkan azab akhirat. Betapa ruginya menyibukkan diri sementara kesibukan itu malah mendatangkan azab."[3] Membahas sejarah imam ali tidak pernah cukup dengan lembaran-lembaran ini, beliau wafat pada saat beliau melaksanakan sholat. Beliau dibunuh oleh abdurahman bin muljam dengan menebas leher imam ali. Sekarang mari kita membahas istri beliau yang juga adalah putrid rasulullah Saw. Yaitu sayidah fatimah az-zahra.



[1] At-tirmidzi, jami' ash-shahih, vol. v hal. 328.

[2] Al-manaqib, sarawi, 3:25. bihar anwar, 37:157.

[3] Biharul anwar jilid 40. hal 18-24.



Artikel Terkait:

0 komentar

Poskan Komentar