| OlehRuhallah Al-Musawi Khomeini Anakku, kini aku hendak berbicara sedikit tentang masalah pribadi dan keluarga, serta mengakhiri pembicaraanku yang panjang-lebar ini. Nasihatku yang terpenting kepadamu (dalam masalah ini), Anakku yang kusayangi, adalah untuk mengurusi ibumu yang paling setia itu. Seseorang tak dapat menghitung hak-hak ibu yang (memang) tak terhitung, dan seseorang tak mungkin bisa memenuhi hak-haknya. Satu malam yang dijalani oleh seorang ibu dalam mengurusi anaknya bernilai lebih besar daripada bertahun-tahun kehidupan seorang ayah yang setia. Kelembutan dan kasih-sayang yang terkandung dalam mata-berbinar seorang ibu adalah kilatan kasih dan sayang Rabb Sekalian Alam. Allah, Subhânahu wa Ta'âlâ, telah meniupkan ke dalam hati dan jiwa para ibu kasih dan sayang-Nya sendiri dengan suatu cara yang tak terperikan dan tak seorang pun bisa menghargainya kecuali para ibu itu sendiri. Berkat kasih-abadi-Nyalah maka para ibu, kukuh seperti 'Arsy Allah itu sendiri, memiliki kekuatan untuk menanggung kesakitan dan kesusahan menjadi ibu, sejak awal kehamilan, selama kehamilan itu sendiri, persalinan, tahun-tahun anaknya masih bayi, dan sepanjang hidup anaknya. Itulah hal-hal yang seorang ayah tak bisa menanggungnya meski hanya semalam. Anakku, apa yang dinyatakan dalam hadis—yakni bahwa "surga terletak di telapak kaki ibu" adalah suatu kenyataan. Dan hal itu telah diungkapkan dengan cara yang anggun seperti itu demi menekankan nilai-pentingnya yang luar-biasa dan untuk mengingatkan kepada anak-anak agar mencari kebahagiaan dan surga dalam debu di telapak kaki ibu. Juga agar mereka selalu ingat bahwa menghormati ibu adalah seperti berkhidmat kepada Allah. Dan agar sese orang mencari keridhaan Allah dalam keridhaan ibu. Meski semua ibu adalah teladan, sebagian di antara mereka memiliki sifat-sifat khusus tertentu. Saya memiliki kenang-kenangan dengan ibumu yang mulia mengenai bagaimana ia memberikan seluruh siang dan malamnya untuk membesarkan anak-anaknya Saya telah melihat dalam dirinya sifat-sifat yang mulia ini. Saya nasihati engkau dan semua anggota keluargaku untuk berbuat yang terbaik dalam melayaninya dan mencari keridhaannya setelah kematianku. Buatlah dia serela aku sekarang ketika melihat ia rela kepadamu semua. Berbuatlah sebaik- baiknya untuk melayani dia selama aku masih hidup dan lebih baik lagi sepeninggalku. Aku nasihati engkau, Anakku Ahmad, agar engkau memperlakukan sanak-kerabat dan semua anggota- keluargamu—khususnya saudara-saudara- perempuanmu, keponakan-keponakanmu (laki-laki dan perempuan)—dengan kebaikan-hati dan kelembutan, serta keikhlasan dan pengorbanan-diri. Bimbinganku yang terakhir bagi seluruh anakku adalah agar bersatu-pendapat dalam semua urusan, memperlakukan satu sama lain dengan kebaikan-hati dan kecintaan, dan menapaki jalan Allah dan jalan pelayanan kepada para makhluk-Nya yang papa— karena ini akan memberikan kebaikan bagimu di dunia ini dan di akhirat. Aku nasihati Husain, buah- hatiku, agar tidak mengabaikan kegiatan belajar ilmu- ilmu agama, untuk tidak menyia-nyiakan bakat yang dianugerahkan Allah kepadanya, dan untuk memperlakukan ibu dan saudara-saudara- perempuannya dengan cinta dan kelembutan, serta mengikuti jalan yang lurus di masa-mudanya. Nasihat-terakhirku bagi engkau, Ahmad, adalah agar engkau membesarkan dan mendidik anak- anakmu dengan baik, mengakrabkan mereka dengan Islam yang sama-sama kita cintai sejak masa-kecil, untuk menghormati ibu mereka yang baik-hati dan mulia, dan siap untuk melayani sanak-kerabatnya. Salam Allah (semoga) dilimpahkan kepada orang- orang yang lurus. Aku meminta kepada semua anggota keluargaku—khususnya anak-anakku— untuk memaafkan semua kesalahan dan kekuranganku dalam berhubungan dengan mereka, untuk mengampuni semua ketidakadilan yang mungkin aku lakukan kepada mereka, dan untuk memintakan ampunan dan kasih sayang Allah bagiku. Sungguh, Ia Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Aku memohon kepada Allah, Yang Mahadermawan, untuk menolong sanak-kerabatku (agar terpelihara) di jalan (menuju) kebahagiaan dan istiqâmah, serta melingkupi mereka dengan kasih- sayang-Nya yang serba-meliputi, untuk memberikan kekuatan kepada Islam dan kaum Muslim, dan memotong tangan-tangan mustaqbarin dan kuasa- besar-penindas (agar mereka tak bisa melakukan) penganiayaan (kepada mereka). Shalawat dan salam atas Rasulullah, sang penutup rangkaian para nabi, dan atas keluarganya yang ma'shûm, serta laknat Allah kepada musuh-musuh mereka semua hingga Hari Kebangkitan |
| OlehRuhallah Al-Musawi Khomeini Anakku, kini aku hendak berbicara sedikit tentang masalah pribadi dan keluarga, serta mengakhiri pembicaraanku yang panjang-lebar ini. Nasihatku yang terpenting kepadamu (dalam masalah ini), Anakku yang kusayangi, adalah untuk mengurusi ibumu yang paling setia itu. Seseorang tak dapat menghitung hak-hak ibu yang (memang) tak terhitung, dan seseorang tak mungkin bisa memenuhi hak-haknya. Satu malam yang dijalani oleh seorang ibu dalam mengurusi anaknya bernilai lebih besar daripada bertahun-tahun kehidupan seorang ayah yang setia. Kelembutan dan kasih-sayang yang terkandung dalam mata-berbinar seorang ibu adalah kilatan kasih dan sayang Rabb Sekalian Alam. Allah, Subhânahu wa Ta'âlâ, telah meniupkan ke dalam hati dan jiwa para ibu kasih dan sayang-Nya sendiri dengan suatu cara yang tak terperikan dan tak seorang pun bisa menghargainya kecuali para ibu itu sendiri. Berkat kasih-abadi-Nyalah maka para ibu, kukuh seperti 'Arsy Allah itu sendiri, memiliki kekuatan untuk menanggung kesakitan dan kesusahan menjadi ibu, sejak awal kehamilan, selama kehamilan itu sendiri, persalinan, tahun-tahun anaknya masih bayi, dan sepanjang hidup anaknya. Itulah hal-hal yang seorang ayah tak bisa menanggungnya meski hanya semalam. Anakku, apa yang dinyatakan dalam hadis—yakni bahwa "surga terletak di telapak kaki ibu" adalah suatu kenyataan. Dan hal itu telah diungkapkan dengan cara yang anggun seperti itu demi menekankan nilai-pentingnya yang luar-biasa dan untuk mengingatkan kepada anak-anak agar mencari kebahagiaan dan surga dalam debu di telapak kaki ibu. Juga agar mereka selalu ingat bahwa menghormati ibu adalah seperti berkhidmat kepada Allah. Dan agar sese orang mencari keridhaan Allah dalam keridhaan ibu. Meski semua ibu adalah teladan, sebagian di antara mereka memiliki sifat-sifat khusus tertentu. Saya memiliki kenang-kenangan dengan ibumu yang mulia mengenai bagaimana ia memberikan seluruh siang dan malamnya untuk membesarkan anak-anaknya Saya telah melihat dalam dirinya sifat-sifat yang mulia ini. Saya nasihati engkau dan semua anggota keluargaku untuk berbuat yang terbaik dalam melayaninya dan mencari keridhaannya setelah kematianku. Buatlah dia serela aku sekarang ketika melihat ia rela kepadamu semua. Berbuatlah sebaik- baiknya untuk melayani dia selama aku masih hidup dan lebih baik lagi sepeninggalku. Aku nasihati engkau, Anakku Ahmad, agar engkau memperlakukan sanak-kerabat dan semua anggota- keluargamu—khususnya saudara-saudara- perempuanmu, keponakan-keponakanmu (laki-laki dan perempuan)—dengan kebaikan-hati dan kelembutan, serta keikhlasan dan pengorbanan-diri. Bimbinganku yang terakhir bagi seluruh anakku adalah agar bersatu-pendapat dalam semua urusan, memperlakukan satu sama lain dengan kebaikan-hati dan kecintaan, dan menapaki jalan Allah dan jalan pelayanan kepada para makhluk-Nya yang papa— karena ini akan memberikan kebaikan bagimu di dunia ini dan di akhirat. Aku nasihati Husain, buah- hatiku, agar tidak mengabaikan kegiatan belajar ilmu- ilmu agama, untuk tidak menyia-nyiakan bakat yang dianugerahkan Allah kepadanya, dan untuk memperlakukan ibu dan saudara-saudara- perempuannya dengan cinta dan kelembutan, serta mengikuti jalan yang lurus di masa-mudanya. Nasihat-terakhirku bagi engkau, Ahmad, adalah agar engkau membesarkan dan mendidik anak- anakmu dengan baik, mengakrabkan mereka dengan Islam yang sama-sama kita cintai sejak masa-kecil, untuk menghormati ibu mereka yang baik-hati dan mulia, dan siap untuk melayani sanak-kerabatnya. Salam Allah (semoga) dilimpahkan kepada orang- orang yang lurus. Aku meminta kepada semua anggota keluargaku—khususnya anak-anakku— untuk memaafkan semua kesalahan dan kekuranganku dalam berhubungan dengan mereka, untuk mengampuni semua ketidakadilan yang mungkin aku lakukan kepada mereka, dan untuk memintakan ampunan dan kasih sayang Allah bagiku. Sungguh, Ia Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Aku memohon kepada Allah, Yang Mahadermawan, untuk menolong sanak-kerabatku (agar terpelihara) di jalan (menuju) kebahagiaan dan istiqâmah, serta melingkupi mereka dengan kasih- sayang-Nya yang serba-meliputi, untuk memberikan kekuatan kepada Islam dan kaum Muslim, dan memotong tangan-tangan mustaqbarin dan kuasa- besar-penindas (agar mereka tak bisa melakukan) penganiayaan (kepada mereka). Shalawat dan salam atas Rasulullah, sang penutup rangkaian para nabi, dan atas keluarganya yang ma'shûm, serta laknat Allah kepada musuh-musuh mereka semua hingga Hari Kebangkitan |
Nasehat Imam Khomeini Tentang Keluarga
Dengan keputusan bijaksana ia ditakdirkan dari golongan Quraisy Mekah, pemilik hahasa yang mulia, bersinar dan elastis untuk dijelaskan. Dan, dia merupakan anak asuh dan Rasulullah saw. Perkataan dalam sastra Imam Ali bersumber dari hatinya dan terpancar melalui mulutnya sehingga menjadi kalimat yang sarat akan makna, indah, dan jernih
Ungkapannya keluar dari tambang batu bagaikan bintang, bersinar, diuntai oleh tangan para ahli, dan jari-jari yang meliuk-liuk di dalam cahaya dan wangian.
Cerita perumpamaan dan kata-kata hikmahnya merupakan penggambaran akal yang bijaksana, penglihatan yang penuh dengan ilham, dan hasil percobaan orang yang berpikir sangat tinggi.
Ada pun khotbah-khotbahnya sangat melengking. Diselimuti dengan ungkapan cerah dan sastra A1-Quran dan balaghah Rasululiah saw. yang berkisar tentang bimbingan, keterangan, penafsiran, penegasan sikap dan posisi, penjelasan bahaya dan kesesatan, serta peringatan akan dosa dan penyimpangan. Sarat akan kecintaan terhadap manusia, sifat-sifat keutamaan dan ketaatan terhadap Allah SWT. berpegang pada tali Islam dan dan kepada Ahlulbayt nabi.
Kadang ImamAli as menatap di sekeliuingnya suatu gambar fenomena, kejadian atau salah satu makhluk. Lalu ia menggambarkannya dengan kalimat yang hidup, jelas, tepat goresannya, semerbak wanginya yang didapat dan kemurnian sufinya, kedalaman pandangan falsafatnya, kelembutan penjelasan sastranya, dan keagungan kondisi yang tergambar dan apa yang didapatnya.
Maka, sepantasnyalah baginya untuk menjadi sastrawan Quraisy yang pertama yang mulia kata hikmahnya dalam sejarah Islam. Sastranya bisa dikatakan anak dan sastra A1-Qur’an dan lanjutan bagi penjelasan Rasulullah saw.
Kata Mutiara Imam Ali Bin Abitholib
1. Dalam masa kekacauan sosial, jadilah seperti anak sapi yang akan berumur dua tahun, belum memiliki punggung yang layak untuk ditunggangi, dan tidak bersusu yang layak untuk diperah.
2. Siapa yang tamak maka dia telah meremehkan dirinya, siapa yang dapat keluar dari kesulitan akan rela dalam kehinaan, siapa yang dikuasai oleh lidahnya maka dirinya menjadi hina.
3. Bakhil suatu ha! yang tercela, Penakut adalah suatu kekurangan. Kefakiran menumpulkan hujjah orang yang cerdas. Orang minoritas akan menjadi asing di negerinya. Kesabaran adalah suatu keberanian. Zuhud adalah kekayaan. Dan, wara’ adalah pertahanan/perisai terhadap dosa.
4. Jika dunia mendatangi seseorang maka ia akan mencela kebaikan orang lain. Jika dunia meninggalkannya maka dia akan menghilangkan kebaikan-kebaikan dirinya.
5. Bercampurlah dengan manusia dengan suatu pergaulan yang jika engkau mati mereka menangisi kepergianmu. Dan, jika engkau masih hidup mereka merindukanmu.
6. Jika engkau telah mengalahkan musuhmu maka jadikanlah sifat pemaaf kepadanya sebagai rasa syukur atas kemenangan terhadapnya.
7. Manusia yang paling lemah adalah manusia yang tidak mampu mencari teman. Dan, yang Iebih lemah lagi adalah yang menyia-nyiakan orang yang telah menjadi temannya.
8. Tidak semua orang yang gila patut dicela.
9. Kewibawaan biasanya dibarengi dengan kegagalan. Rasa malu dibarengi dengan kehampaan. Sedangkan. kesempatan itu berjalan seperti awan maka pergunakanlah kesempatan baik itu.
10. Siapa yang dihambat oleh pekerjaannya, maka nasabnya tidak dapat mempercepat keberhasilannya.
11. Seseorang tidak akan dapat menyembunyikan sesuatu kecuali akan tampak dari kekeliruan ucapannya atau dari mimik wajahnya.
12. Zuhud yang paling utama adalah kezuhudan yang disembunyikan. Agil asshofie 06:53:00 Admin Tangerang Indonesia
Sastra Imam Ali Bin Abi Thalib
TERDAPAT dalam diri Imam Ali, almauhibah ‘sifat pembawaan’ sehingga terkumpul dalam dirinya ciri khas dan keluarganya, yaitu kakeknya sebagai pemelihara Ka’bah. Ia pun ahli dalam berbicara mengenai hal supranatural, sebagaimana terkumpul dalam diri Ali karakter gemanya langit, malam, padang pasir, dan gunung. Karangan prosanya seketika berisi syair kaum Arab, prosa mereka, kata-kata hikmahnya, wasiat-vasiatnya, pidato-pidatonya, sejarahnya..
Dengan keputusan bijaksana ia ditakdirkan dari golongan Quraisy Mekah, pemilik hahasa yang mulia, bersinar dan elastis untuk dijelaskan. Dan, dia merupakan anak asuh dan Rasulullah saw. Perkataan dalam sastra Imam Ali bersumber dari hatinya dan terpancar melalui mulutnya sehingga menjadi kalimat yang sarat akan makna, indah, dan jernih
Ungkapannya keluar dari tambang batu bagaikan bintang, bersinar, diuntai oleh tangan para ahli, dan jari-jari yang meliuk-liuk di dalam cahaya dan wangian.
Cerita perumpamaan dan kata-kata hikmahnya merupakan penggambaran akal yang bijaksana, penglihatan yang penuh dengan ilham, dan hasil percobaan orang yang berpikir sangat tinggi.
Ada pun khotbah-khotbahnya sangat melengking. Diselimuti dengan ungkapan cerah dan sastra A1-Quran dan balaghah Rasululiah saw. yang berkisar tentang bimbingan, keterangan, penafsiran, penegasan sikap dan posisi, penjelasan bahaya dan kesesatan, serta peringatan akan dosa dan penyimpangan. Sarat akan kecintaan terhadap manusia, sifat-sifat keutamaan dan ketaatan terhadap Allah SWT. berpegang pada tali Islam dan dan kepada Ahlulbayt nabi.
Kadang ImamAli as menatap di sekeliuingnya suatu gambar fenomena, kejadian atau salah satu makhluk. Lalu ia menggambarkannya dengan kalimat yang hidup, jelas, tepat goresannya, semerbak wanginya yang didapat dan kemurnian sufinya, kedalaman pandangan falsafatnya, kelembutan penjelasan sastranya, dan keagungan kondisi yang tergambar dan apa yang didapatnya.
Maka, sepantasnyalah baginya untuk menjadi sastrawan Quraisy yang pertama yang mulia kata hikmahnya dalam sejarah Islam. Sastranya bisa dikatakan anak dan sastra A1-Qur’an dan lanjutan bagi penjelasan Rasulullah saw.
Kata Mutiara Imam Ali Bin Abitholib
1. Dalam masa kekacauan sosial, jadilah seperti anak sapi yang akan berumur dua tahun, belum memiliki punggung yang layak untuk ditunggangi, dan tidak bersusu yang layak untuk diperah.
2. Siapa yang tamak maka dia telah meremehkan dirinya, siapa yang dapat keluar dari kesulitan akan rela dalam kehinaan, siapa yang dikuasai oleh lidahnya maka dirinya menjadi hina.
3. Bakhil suatu ha! yang tercela, Penakut adalah suatu kekurangan. Kefakiran menumpulkan hujjah orang yang cerdas. Orang minoritas akan menjadi asing di negerinya. Kesabaran adalah suatu keberanian. Zuhud adalah kekayaan. Dan, wara’ adalah pertahanan/perisai terhadap dosa.
4. Jika dunia mendatangi seseorang maka ia akan mencela kebaikan orang lain. Jika dunia meninggalkannya maka dia akan menghilangkan kebaikan-kebaikan dirinya.
5. Bercampurlah dengan manusia dengan suatu pergaulan yang jika engkau mati mereka menangisi kepergianmu. Dan, jika engkau masih hidup mereka merindukanmu.
6. Jika engkau telah mengalahkan musuhmu maka jadikanlah sifat pemaaf kepadanya sebagai rasa syukur atas kemenangan terhadapnya.
7. Manusia yang paling lemah adalah manusia yang tidak mampu mencari teman. Dan, yang Iebih lemah lagi adalah yang menyia-nyiakan orang yang telah menjadi temannya.
8. Tidak semua orang yang gila patut dicela.
9. Kewibawaan biasanya dibarengi dengan kegagalan. Rasa malu dibarengi dengan kehampaan. Sedangkan. kesempatan itu berjalan seperti awan maka pergunakanlah kesempatan baik itu.
10. Siapa yang dihambat oleh pekerjaannya, maka nasabnya tidak dapat mempercepat keberhasilannya.
11. Seseorang tidak akan dapat menyembunyikan sesuatu kecuali akan tampak dari kekeliruan ucapannya atau dari mimik wajahnya.
12. Zuhud yang paling utama adalah kezuhudan yang disembunyikan.
ALLAHUMMA SHALLI ALAA MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD
Janganlah membicarakan apa yang engkau tidak ketahui. Jangan berspekulasi dan memberi pendapat atas apa yang engkau tidak berada dalam kedudukan untuk memberi pendapat tentangnya. Berhentilah jika khawatir akan tersesat. Adalah lebih baik berhenti disaat kebingungan daripada maju merambah bahaya-bahaya yang tak tentu dan resiko-resiko yang tak terduga.
Jangan sekali-kali membiarkan ketidakpastian dan keraguan meracuni pikiran mu. Jangan biarkan rasa ingin menang atau rasa suka dan tidak suka mempengaruhi pandangan dan pendapatmu. Inagtlah untuk senantiasa mengawali usahamu dengan memohon petunjuk dari tuhanmu dan membimbing kejalan yang benar. Jangan biarkan perasaan ragu dan bimbang menguasai pikiranmu, karena itu akan menjerumuskanmu kedalam sikap tidak peduli terhadap Tuhan atau syubhat atau kedalam dosa dan kesesatan. Ketika engkau akan menyelesaikan suatu masalah sedang engkau yakin bahwa hatimu bersih dan khusyuk, pikiranmu telah terpusat dan semangatmu telah penuh, perhatikanlah apa apa yang telah kuterangkan padamu: tetapi jika piiranmu belum jernih dan terbebas dari keraguan sebagaimana engkau harapkan , maka engkau akan membabi buta dan jatuh kedalam kegelapan. Dalam keadaan seperti itu yang terbaik adalah berhenti, karena dalam keterbatasan-ketervatasan seperti itu seseorang takkan pernah mencapai kebenaran.
Sesungguhnya Allah tidak menyuruhmu melakukan sesuatu kecuali yang baik dan membawa kebaikan, dan tidak melarangmu kecuali dari dari yng buruk dan menimbulkan keburukan
Sesungguhnya perumpamaan orang-orang yang memahami hakekat dunia ini adalah bagaikan orang yang melakukan perjalanan dari tempat yang subur menghijau, penuh karunia dan nikmat. Mereka menjalaninya dengan penuh gairah harapan akan masa depan yang penuh karunia dan kedamaian. Mereka dengan rela menerima segala penderitaan, kesukaran dan resiko perjalanan. Tabah menghadapi perpisahan dengan kawan, kurangnya makan dan kenyamanan selama perjalanan demi tercapainya tujuan perjalanan. Mereka tidak menolak untuk menanggung segala ketidaknyamanan dan tidak segan menanggung setiap pengeluaran dalam perjalanan. Setiap langkah yang diambil dalam menjalani tujuannya, betapapun melelahkan, merupakan saat-saat yang membahagiakan dalam kehidupannya. Tiada yang lebih dicintainya daripada mendekatkan diri dan sampai ke tujuan.
sebaliknya perumpamaan orang yang tertipu oleh dunia ini bagaikan orang yang merasa tinggal di tempat yang subur dan menyenangkan, dan harus berjalan menuju tempat yang kering tandus. Adakah sesuatu yang lebih menjemukan dari perjalanan yang seperti itu? Betapa akan bencinya mereka untuk meninggalkan tempat mereka berada pindah ketempat mereka sangat benci, tempat yang dahsyat, mengerikan dan menakutkan.
Janganlah menganiaya dan menzalimi siapaun karena kaupun tidak suka dianiaya dan dizalimi. Bersikap baik dan simpatilah kepada yang lain sebagaimana engkau ingin orang lain berlaku baik dan simpati kepadamu. Anggaplah buruk bagi dirimu apa yang kau pandang buruk sekiranya terbit dari orang lain.
Jika engkau merasa puas dan senang dalam menerima perbuatan tertentu dari orang lain, maka engkaupun dapat berlaku seperti itu kepada yang lain. Jangan membicarakan sesamamu dengan cara yang kau sendiri tidak suka apabila oranglain membicarakanmu seperti itu. Janaganlah berbicara tentang hal-hal yang kurang atau yang tidak kau ketahui, dan jika engkau berbicara tentang sesuatu atau seseorang yang betul-betul kau ketahui dengan baik, maka hindarilah skandal dan fitnah sebagaimana engkau sendiri tidak suka difitnah dan diumpat seperti itu.
Ingatlah anakku, bahwa didepanmu itu perjalanan yang panjang dan jauh. Perjalanan yang tidak hanya sangat panjang, melelahkan, berat dan sukar, bahkan rutenya pun sebagian besar melalui daerah yang curam, tandus dan gersang. Engkau akan sangat membutuhkan istirahat, penyegaran dan pertolongan. Waspadalah dan perbaikilah perbekalanmu agar engkau dapat melanjutkan perjalananmu ke tujuanmu, yaitu hari pengadilan. Tetapi ingatlah anakku, jangan bebani dirimu secara berlebih-lebihan. Kerena jika bebanmu lebih dari yang dapat kau pikul dengan nyaman, maka perjalananmu itu akan sangat menyakitkan dan melelahkan. Jika kau mendapati di sekelilingmu orang-orang yang miskin, papa dan berhajat yang sanggup membawakanmu bekalmu untuk diserahkan kelak dihari kiamat dimana engkau akan sangat berhajat kepadanya, maka gunakaanlah kesempatan itu dan serahkan bebanmu kepadanya. Jadi bebaskanlah dirimu dari pertanggungan yang berat dimana kau akan ditanyai tentang penggunaan karunia yang telah dilimpahkan atasmu (kesehatan, harta, kekuasaan dan kedudukan). Sehingga engkau dapat mencapai tujuan perjalanan mu dalam keadaan ringan dan segar, dan engkau telah memiliki bekal yang cukup bagimu disana. Bagikanlah bebanmu kepada sebanyak mungkin orang yang dapat membawanya ( tolonglah sebanyak mungkin orang yang terjangkau olehmu) sehingga engkau tidak akan kehilangan mereka ketika engkau sangat membutuhkan mereka. Manfaatkanlah harta dan kekuasaanmu sedemikian rupa sehingga engkau akan memperolehnya kembali ketika engkau dalam keadaan miskain dan berdaya (pada hari pengadilan).
Berdoalah untuk hal-hal yang sungguh-sungguh berguna dan bermanfaat bagimu, yang kekal manfaatnya dan tidak berakhir dengan bencana. Inagatlah anakku sayang, harta dan kekuasaan, jika kau berdoa untuknya, adalah termasuk hal-hal yang tidaklah senantiasa bersamamu dan mungkin saja akan membawa bahaya bagimu di akhirat maupun di dunia.
Anakku sayang, janganlah terpesona dan tertipu oleh orang-orang yang tergila-gila oleh dunia dalam kehidupan yang penuh tipuan ini dengan segala kenikmatannya. Janganlah terpengaruh oleh mereka yang dengan kelap memperebutkan dunia ini untuk memiliki dan memiliki. Allah dengan penuh kasih telah menjelaskan kepadamu segala sesuatu mengenai dunia ini, bahkan dunia ini pun telah menjelaskan sifat-sifat aslinya kepadamu. Dunia telah mengungkapkan kefanaannya kepadamu; dunia dengan jelas telah menunjukkan kepadamu kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan dan keburukan-keburukan.
Ingatlah sesungguhnya pencinta dunia ini bagaikan anjing-anjing yang menggonggong, dan binatang-binatang buas yang ganas dan lapar yang saling memusuhi satu sama lain. Diantara mereka ada yang senantiasa menyalak kepada yang lainnya. Yang kuat membantai yang lemah. Yang besar memaksa yang kecil. Sebagian mereka bagaikan binatang ternak yang terikat, sedang yang lainnya bagaikan binatang yang terlepas, kehilangan kendali (akal) dan berlari ke arah yang tak ketahuan rimbanya. Bagaikan kawanan yang tertimpa bencana, yang kebingungan di lembah yang tak datar. Tiada pengendala yang menahan dan mengembalakan mereka ke padang rumput. Dunia telah membawa mereka kejalan kegelapan dan memalingkan mereka dari cahaya petunjuk. Maka tersesatlah mereka dalam kebingungannya dan tenggelam dalam kenikmatan dan kesenangannya. Mereka mengambil dunia sebagai Tuhan mereka. Dunia bermain dengan mereka dan mereka pun bermain dengannya. Mereka lupa dan lalai dengan apa yang akan terjadi setelah dunia ini.
Ingatlah bahwa pemberian yang kecil tetapi langsung dari Allah lebih baik daripada pemberian yang besar namun dari makhluknya, walaupun pada hakikatnya semua berasal dari Allah. Apa yang dapat diberikan manusia hanyalah sebagian dari apa yang telah dianugrahkan Allah kepadanya.
Menjaga apa yang telah ada di tanganmu lebih baik daripada mengharap apa yang ada di tangan orang lain.
Bergaullah dengan orang baik; engkau akan menjadi seorang diantara mereka. Jauhilah orang jahat, engkau akan selamat dari mereka (atau dari sifat-sifat mereka)
Jika kebaikan dan sikap lunak itu membawa hasil yang buruk (karena danggap kelemahan) maka kekerasan dan ketegasan itulah kebaikan yang sesungguhnya.
Adakalanya obat itu menjadi penyakit dan penyakit menjadi obat.
Adakalanya engkau mendapat nesehat dan peringatan dari orang yang tidak pantas menasehatimu, dan adakalanya engkau menemui penasehat yang tidak tulus ( adakalanya yang memberi nasehat itu bukan penasehat, dan adakalanya yang dimintai nesehat menipu).
Yang disebut bijaksana adalah yang mengingati pengalaman (dan mengambil manfaatnya). Sebaik-baik pengalaman adalah yang senantiasa menjadi pringatan bagimu.
Pergunakanlah kesempatan sebelum menjadi rintangan.
Tidak semua yang menuntut pasti akan dapat. Tidak semua yang pergi akan kembali.
Hati-hatilah jangan sampai tertipu dan dikendalikan oleh perasaan.
Tiada sesuatu pun yang sungguh-sungguh bermanfaat dan berguna bagimu di dunia kecuali yang bermanfaat dan berguna bagi akhirat mu.
Jika kau menyesali sesuatu yang terlepas dari tanganmu, maka sesali pula apa yang tidak sampai kepadamu.(sesalilah hal-hal yang sungguh patut kau sesali, yaitu hal-hal yang berguna bagimu dunia-akhirat).
Ambillah petunjuk dari hal-hal yang sudah terjadi untuk mengetahui apa yang akan terjadi (karena setiap kejadian memiliki persamaan).
Janaganlah berlaku seperti orang yang nasehat tidak mampu merubahnya; sehingga di perlakukan hukuman untuk mengoreksinya. Sungguh orang yang berakal itu belajar dan berbudaya melalui nasehat, sedangkan binatanglah yang diajar melalui hukuman dan kekerasan.
Seorang sahabat itu bagaikan keluarga. Sahabat sejati adalah yang brbicara baik dibelakangmu (dalam ketidak hadiran mu)
Adakalanya (keluarga) yang dekat (berprilaku) lebih jauh dari yang jauh dan adakalanya yang asing lebih dekat dari (keluarga) yang dekat (kerabat).
Memutuskan hubungan dengan orang bodoh dan jahil sama dengan menjalin hubungan dengan orang yang berakal.
“ALLAHUMMA SHALLI ALAA MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD” Agil asshofie 02:27:00 Admin Tangerang Indonesia
Nasehat Ali bin Abu Thalib as Kepada Anak-anak Beliau
Nasehat Ali bin Abu Thalib as Kepada Anak-anak Beliau
ALLAHUMMA SHALLI ALAA MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD
Janganlah membicarakan apa yang engkau tidak ketahui. Jangan berspekulasi dan memberi pendapat atas apa yang engkau tidak berada dalam kedudukan untuk memberi pendapat tentangnya. Berhentilah jika khawatir akan tersesat. Adalah lebih baik berhenti disaat kebingungan daripada maju merambah bahaya-bahaya yang tak tentu dan resiko-resiko yang tak terduga.
Jangan sekali-kali membiarkan ketidakpastian dan keraguan meracuni pikiran mu. Jangan biarkan rasa ingin menang atau rasa suka dan tidak suka mempengaruhi pandangan dan pendapatmu. Inagtlah untuk senantiasa mengawali usahamu dengan memohon petunjuk dari tuhanmu dan membimbing kejalan yang benar. Jangan biarkan perasaan ragu dan bimbang menguasai pikiranmu, karena itu akan menjerumuskanmu kedalam sikap tidak peduli terhadap Tuhan atau syubhat atau kedalam dosa dan kesesatan. Ketika engkau akan menyelesaikan suatu masalah sedang engkau yakin bahwa hatimu bersih dan khusyuk, pikiranmu telah terpusat dan semangatmu telah penuh, perhatikanlah apa apa yang telah kuterangkan padamu: tetapi jika piiranmu belum jernih dan terbebas dari keraguan sebagaimana engkau harapkan , maka engkau akan membabi buta dan jatuh kedalam kegelapan. Dalam keadaan seperti itu yang terbaik adalah berhenti, karena dalam keterbatasan-ketervatasan seperti itu seseorang takkan pernah mencapai kebenaran.
Sesungguhnya Allah tidak menyuruhmu melakukan sesuatu kecuali yang baik dan membawa kebaikan, dan tidak melarangmu kecuali dari dari yng buruk dan menimbulkan keburukan
Sesungguhnya perumpamaan orang-orang yang memahami hakekat dunia ini adalah bagaikan orang yang melakukan perjalanan dari tempat yang subur menghijau, penuh karunia dan nikmat. Mereka menjalaninya dengan penuh gairah harapan akan masa depan yang penuh karunia dan kedamaian. Mereka dengan rela menerima segala penderitaan, kesukaran dan resiko perjalanan. Tabah menghadapi perpisahan dengan kawan, kurangnya makan dan kenyamanan selama perjalanan demi tercapainya tujuan perjalanan. Mereka tidak menolak untuk menanggung segala ketidaknyamanan dan tidak segan menanggung setiap pengeluaran dalam perjalanan. Setiap langkah yang diambil dalam menjalani tujuannya, betapapun melelahkan, merupakan saat-saat yang membahagiakan dalam kehidupannya. Tiada yang lebih dicintainya daripada mendekatkan diri dan sampai ke tujuan.
sebaliknya perumpamaan orang yang tertipu oleh dunia ini bagaikan orang yang merasa tinggal di tempat yang subur dan menyenangkan, dan harus berjalan menuju tempat yang kering tandus. Adakah sesuatu yang lebih menjemukan dari perjalanan yang seperti itu? Betapa akan bencinya mereka untuk meninggalkan tempat mereka berada pindah ketempat mereka sangat benci, tempat yang dahsyat, mengerikan dan menakutkan.
Janganlah menganiaya dan menzalimi siapaun karena kaupun tidak suka dianiaya dan dizalimi. Bersikap baik dan simpatilah kepada yang lain sebagaimana engkau ingin orang lain berlaku baik dan simpati kepadamu. Anggaplah buruk bagi dirimu apa yang kau pandang buruk sekiranya terbit dari orang lain.
Jika engkau merasa puas dan senang dalam menerima perbuatan tertentu dari orang lain, maka engkaupun dapat berlaku seperti itu kepada yang lain. Jangan membicarakan sesamamu dengan cara yang kau sendiri tidak suka apabila oranglain membicarakanmu seperti itu. Janaganlah berbicara tentang hal-hal yang kurang atau yang tidak kau ketahui, dan jika engkau berbicara tentang sesuatu atau seseorang yang betul-betul kau ketahui dengan baik, maka hindarilah skandal dan fitnah sebagaimana engkau sendiri tidak suka difitnah dan diumpat seperti itu.
Ingatlah anakku, bahwa didepanmu itu perjalanan yang panjang dan jauh. Perjalanan yang tidak hanya sangat panjang, melelahkan, berat dan sukar, bahkan rutenya pun sebagian besar melalui daerah yang curam, tandus dan gersang. Engkau akan sangat membutuhkan istirahat, penyegaran dan pertolongan. Waspadalah dan perbaikilah perbekalanmu agar engkau dapat melanjutkan perjalananmu ke tujuanmu, yaitu hari pengadilan. Tetapi ingatlah anakku, jangan bebani dirimu secara berlebih-lebihan. Kerena jika bebanmu lebih dari yang dapat kau pikul dengan nyaman, maka perjalananmu itu akan sangat menyakitkan dan melelahkan. Jika kau mendapati di sekelilingmu orang-orang yang miskin, papa dan berhajat yang sanggup membawakanmu bekalmu untuk diserahkan kelak dihari kiamat dimana engkau akan sangat berhajat kepadanya, maka gunakaanlah kesempatan itu dan serahkan bebanmu kepadanya. Jadi bebaskanlah dirimu dari pertanggungan yang berat dimana kau akan ditanyai tentang penggunaan karunia yang telah dilimpahkan atasmu (kesehatan, harta, kekuasaan dan kedudukan). Sehingga engkau dapat mencapai tujuan perjalanan mu dalam keadaan ringan dan segar, dan engkau telah memiliki bekal yang cukup bagimu disana. Bagikanlah bebanmu kepada sebanyak mungkin orang yang dapat membawanya ( tolonglah sebanyak mungkin orang yang terjangkau olehmu) sehingga engkau tidak akan kehilangan mereka ketika engkau sangat membutuhkan mereka. Manfaatkanlah harta dan kekuasaanmu sedemikian rupa sehingga engkau akan memperolehnya kembali ketika engkau dalam keadaan miskain dan berdaya (pada hari pengadilan).
Berdoalah untuk hal-hal yang sungguh-sungguh berguna dan bermanfaat bagimu, yang kekal manfaatnya dan tidak berakhir dengan bencana. Inagatlah anakku sayang, harta dan kekuasaan, jika kau berdoa untuknya, adalah termasuk hal-hal yang tidaklah senantiasa bersamamu dan mungkin saja akan membawa bahaya bagimu di akhirat maupun di dunia.
Anakku sayang, janganlah terpesona dan tertipu oleh orang-orang yang tergila-gila oleh dunia dalam kehidupan yang penuh tipuan ini dengan segala kenikmatannya. Janganlah terpengaruh oleh mereka yang dengan kelap memperebutkan dunia ini untuk memiliki dan memiliki. Allah dengan penuh kasih telah menjelaskan kepadamu segala sesuatu mengenai dunia ini, bahkan dunia ini pun telah menjelaskan sifat-sifat aslinya kepadamu. Dunia telah mengungkapkan kefanaannya kepadamu; dunia dengan jelas telah menunjukkan kepadamu kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan dan keburukan-keburukan.
Ingatlah sesungguhnya pencinta dunia ini bagaikan anjing-anjing yang menggonggong, dan binatang-binatang buas yang ganas dan lapar yang saling memusuhi satu sama lain. Diantara mereka ada yang senantiasa menyalak kepada yang lainnya. Yang kuat membantai yang lemah. Yang besar memaksa yang kecil. Sebagian mereka bagaikan binatang ternak yang terikat, sedang yang lainnya bagaikan binatang yang terlepas, kehilangan kendali (akal) dan berlari ke arah yang tak ketahuan rimbanya. Bagaikan kawanan yang tertimpa bencana, yang kebingungan di lembah yang tak datar. Tiada pengendala yang menahan dan mengembalakan mereka ke padang rumput. Dunia telah membawa mereka kejalan kegelapan dan memalingkan mereka dari cahaya petunjuk. Maka tersesatlah mereka dalam kebingungannya dan tenggelam dalam kenikmatan dan kesenangannya. Mereka mengambil dunia sebagai Tuhan mereka. Dunia bermain dengan mereka dan mereka pun bermain dengannya. Mereka lupa dan lalai dengan apa yang akan terjadi setelah dunia ini.
Ingatlah bahwa pemberian yang kecil tetapi langsung dari Allah lebih baik daripada pemberian yang besar namun dari makhluknya, walaupun pada hakikatnya semua berasal dari Allah. Apa yang dapat diberikan manusia hanyalah sebagian dari apa yang telah dianugrahkan Allah kepadanya.
Menjaga apa yang telah ada di tanganmu lebih baik daripada mengharap apa yang ada di tangan orang lain.
Bergaullah dengan orang baik; engkau akan menjadi seorang diantara mereka. Jauhilah orang jahat, engkau akan selamat dari mereka (atau dari sifat-sifat mereka)
Jika kebaikan dan sikap lunak itu membawa hasil yang buruk (karena danggap kelemahan) maka kekerasan dan ketegasan itulah kebaikan yang sesungguhnya.
Adakalanya obat itu menjadi penyakit dan penyakit menjadi obat.
Adakalanya engkau mendapat nesehat dan peringatan dari orang yang tidak pantas menasehatimu, dan adakalanya engkau menemui penasehat yang tidak tulus ( adakalanya yang memberi nasehat itu bukan penasehat, dan adakalanya yang dimintai nesehat menipu).
Yang disebut bijaksana adalah yang mengingati pengalaman (dan mengambil manfaatnya). Sebaik-baik pengalaman adalah yang senantiasa menjadi pringatan bagimu.
Pergunakanlah kesempatan sebelum menjadi rintangan.
Tidak semua yang menuntut pasti akan dapat. Tidak semua yang pergi akan kembali.
Hati-hatilah jangan sampai tertipu dan dikendalikan oleh perasaan.
Tiada sesuatu pun yang sungguh-sungguh bermanfaat dan berguna bagimu di dunia kecuali yang bermanfaat dan berguna bagi akhirat mu.
Jika kau menyesali sesuatu yang terlepas dari tanganmu, maka sesali pula apa yang tidak sampai kepadamu.(sesalilah hal-hal yang sungguh patut kau sesali, yaitu hal-hal yang berguna bagimu dunia-akhirat).
Ambillah petunjuk dari hal-hal yang sudah terjadi untuk mengetahui apa yang akan terjadi (karena setiap kejadian memiliki persamaan).
Janaganlah berlaku seperti orang yang nasehat tidak mampu merubahnya; sehingga di perlakukan hukuman untuk mengoreksinya. Sungguh orang yang berakal itu belajar dan berbudaya melalui nasehat, sedangkan binatanglah yang diajar melalui hukuman dan kekerasan.
Seorang sahabat itu bagaikan keluarga. Sahabat sejati adalah yang brbicara baik dibelakangmu (dalam ketidak hadiran mu)
Adakalanya (keluarga) yang dekat (berprilaku) lebih jauh dari yang jauh dan adakalanya yang asing lebih dekat dari (keluarga) yang dekat (kerabat).
Memutuskan hubungan dengan orang bodoh dan jahil sama dengan menjalin hubungan dengan orang yang berakal.
“ALLAHUMMA SHALLI ALAA MUHAMMAD WA AALI MUHAMMAD”