Syi'ah meyakini bahwa pintu ijtihad terbuka lebar untuk semua persoalan agama. Para fuqaha yang kompeten dapat melakukan istinbath atau yurisprudensi hukum dari empat sumber hukum di atas dan menyajikannya kepada pihak yang belum memiliki kemampuan istinbath, meskipun pandangan mereka mungkin berbeda dengan pandangan fuqaha sebelumnya.
Syi'ah juga meyakini bahwa seseorang yang belum mencapai otoritas istinbath hukum hendaknya merujuk atau bertaqlid kepada para fuqaha hidup yang menguasai persoalan zaman dan masyarakat. Bagi Syi’ah, persoalan merujuk kepada para ahli oleh orang-orang awam dalam masalah fiqih atau taqlid merupakan persoalan yang amat jelas dan disadari oleh semua orang awam.
Akan tetapi taqlid harus dilakukan terhadap orang yang masih hidup, tidak boleh kepada orang yang telah meninggal dunia, kecuali jika sebelumnya memang ia telah bertaqlid kepadanya. Hal ini supaya fiqih terus berkembang di diriainis. Maka para fuqaha yang dijadikan tempat rujukan oleh orang-orang awam disebut marja’ taqlid, atau tempat rujukan dalam taqlid.
Syi'ah meyakini bahwa pintu ijtihad terbuka lebar untuk semua persoalan agama. Para fuqaha yang kompeten dapat melakukan istinbath atau yurisprudensi hukum dari empat sumber hukum di atas dan menyajikannya kepada pihak yang belum memiliki kemampuan istinbath, meskipun pandangan mereka mungkin berbeda dengan pandangan fuqaha sebelumnya.
Syi'ah juga meyakini bahwa seseorang yang belum mencapai otoritas istinbath hukum hendaknya merujuk atau bertaqlid kepada para fuqaha hidup yang menguasai persoalan zaman dan masyarakat. Bagi Syi’ah, persoalan merujuk kepada para ahli oleh orang-orang awam dalam masalah fiqih atau taqlid merupakan persoalan yang amat jelas dan disadari oleh semua orang awam.
Akan tetapi taqlid harus dilakukan terhadap orang yang masih hidup, tidak boleh kepada orang yang telah meninggal dunia, kecuali jika sebelumnya memang ia telah bertaqlid kepadanya. Hal ini supaya fiqih terus berkembang di diriainis. Maka para fuqaha yang dijadikan tempat rujukan oleh orang-orang awam disebut marja’ taqlid, atau tempat rujukan dalam taqlid. Agil asshofie 02:21:00 Admin Tangerang Indonesia
Syi'ah juga meyakini bahwa seseorang yang belum mencapai otoritas istinbath hukum hendaknya merujuk atau bertaqlid kepada para fuqaha hidup yang menguasai persoalan zaman dan masyarakat. Bagi Syi’ah, persoalan merujuk kepada para ahli oleh orang-orang awam dalam masalah fiqih atau taqlid merupakan persoalan yang amat jelas dan disadari oleh semua orang awam.
Akan tetapi taqlid harus dilakukan terhadap orang yang masih hidup, tidak boleh kepada orang yang telah meninggal dunia, kecuali jika sebelumnya memang ia telah bertaqlid kepadanya. Hal ini supaya fiqih terus berkembang di diriainis. Maka para fuqaha yang dijadikan tempat rujukan oleh orang-orang awam disebut marja’ taqlid, atau tempat rujukan dalam taqlid. Agil asshofie 02:21:00 Admin Tangerang Indonesia
Pintu Ijtihad Dalam Syiah Imamiah
Posted by Agil Asshofie
on 02:21:00
Artikel Terkait:
Wudhu dan Kesehatan Kalau diperhatikan, anggota badan yang dibasuh ketika berWudhu adalah anggota-anggota badan yang sering terbuka. Anggota badan kita y ...
Kehidupan dan Kematian Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE ...
Para Sahabat Dalam Pandangan Syiah Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE ...
Salahkah Ahlul bayt hingga di bantai?Mereka yang mengaku muslim dan bahkan sahabat Nabi SAW, terlibat konspirasi jahat dalam pembantaian keluarga suci Ahlul Bait As. Ini s ...
Khutbah Rasulullah Saw Saat Pengangkatan Ali Bin Abi Thalib Di Ghadir Khum Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE ...
Berikan Komentar Anda